Radar Jember – Upaya menekan stunting di level desa tidak selalu terbentur fasilitas atau tenaga kesehatan.
Di Sukorambi, hambatan justru datang dari orang tua yang belum sepenuhnya memahami pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak.
Akibatnya, program posyandu kerap berjalan tidak maksimal.
Kader Posyandu Sukorambi, Estin Vergi Tri Cahyani, mengaku masih sering menemui orang tua yang enggan membawa anaknya ke posyandu.
Alasan yang paling sering muncul adalah ketakutan terhadap vaksin. Anak dianggap sakit setelah imunisasi sehingga orang tua memilih tidak datang.
Padahal, menurutnya, demam ringan merupakan respons tubuh yang wajar karena vaksin berisi virus yang telah dilemahkan.
“Vaksin itu dipastikan aman tapi masih banyak yang tidak mau,” katanya.
Lebih jauh, perempuan 47 tahun itu menceritakan pengalamannya, dimana ada seorang ibu yang sebenarnya bersedia datang ke posyandu, tetapi selalu dilarang suaminya.
Bahkan saat jadwal posyandu digelar, sang suami memilih tidak bekerja demi memastikan anaknya tidak dibawa ke layanan tersebut.
“Nah, kalau Posyandunya di rumahnya, dijagain sama dia (suami, Red) biar tidak divaksin,” ungkapnya.
Kondisi itu membuat kader harus melakukan pendekatan lebih luas, tidak hanya kepada ibu, tetapi juga kepala keluarga.
Tanpa dukungan ayah, pemantauan berat badan, tinggi badan, hingga imunisasi menjadi terhambat, padahal posyandu menjadi garda awal deteksi risiko stunting.
Persoalan lain yang ikut mempengaruhi adalah pernikahan dini. Meski sudah ada mekanisme dispensasi kawin, masih ditemukan pasangan usia muda yang memiliki anak dalam kondisi kurang sehat karena belum siap secara mental maupun ekonomi.
Pola asuh dan pemenuhan gizi pun kerap tidak optimal.
“Untuk anak-anak dari keluarga bermasalah, pejabat desa ikut membantu, termasuk kepala desa yang jadi bapak asuh untuk salah satu anak untuk memenuhi kebutuhannya,” pungkasnya.(yul/bud)
Tayangan podcast= https://www.youtube.com/watch?v=axc7JrzgrmI&feature=youtu.be
Editor : Imron Hidayatullahh