Radar Jember - Selama bulan Ramadan, pola distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami penyesuaian.
Jika sebelumnya makanan disajikan dalam bentuk menu siap santap, kini paket yang dibagikan kepada penerima manfaat dialihkan menjadi bingkisan kering.
Isinya beragam, mulai dari roti, susu, buah hingga mamiri. Kebijakan ini ditempuh agar penyaluran tetap berjalan selama puasa. Perubahan skema tersebut dinilai wajar sebagai langkah adaptasi.
Namun, aspek kualitas gizi tetap menjadi prioritas. Jangan sampai, karena bentuknya berubah, kandungan nutrisi justru terabaikan.
Sebab, sebagaimana terlampir dalam tujuan program ini sejak awal dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dan kelompok sasaran, bukan sekadar membagikan makanan dengan nilai harga tertentu.
Dosen Kesehatan Masyarakat Unej, Dr Farida Wahyu Ningtyas menegaskan, substansi program MBG harus tetap berpijak pada tujuan awalnya. Yakni memastikan penerima mendapatkan asupan bergizi seimbang.
“Kalau memang diganti, jadi tidak hanya harganya saja yang disamakan, namun komponen gizinya juga harus seimbang,” ujarnya.
Menurutnya, keseimbangan gizi bukan perkara sederhana. Dalam satu paket makanan, idealnya terdapat unsur karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk pertumbuhan dan perbaikan sel, lemak sebagai cadangan energi, serta vitamin dan mineral yang berperan dalam menjaga daya tahan tubuh.
“Semua komponen itu harus diperhitungkan secara proporsional,” imbuhnya.
Ia mengingatkan, roti memang bisa menjadi sumber karbohidrat, sementara susu menyumbang protein dan kalsium.
Buah menyediakan vitamin dan serat. Namun, komposisinya tetap perlu dihitung. Jangan sampai paket terlihat lengkap secara kasat mata, tetapi tidak mencukupi kebutuhan harian penerima manfaat.
Apalagi selama bulan puasa, pola makan berubah. Anak-anak dan remaja hanya mengonsumsi makanan saat sahur dan berbuka.
Jika bingkisan kering ini menjadi salah satu sumber asupan utama, maka kualitasnya harus benar-benar diperhatikan agar tidak menimbulkan defisit gizi.
Ia juga menekankan pentingnya standar yang jelas dalam penyusunan paket. Penentuan isi tidak cukup berdasarkan kesesuaian anggaran.
Evaluasi kandungan energi dan zat gizi makro maupun mikro perlu dilakukan agar manfaat program tetap optimal dan tepat sasaran.
Dengan demikian, perubahan format distribusi MBG seharusnya tidak mengurangi esensi program. Harga boleh disesuaikan, bentuk boleh berbeda, tetapi kebutuhan gizi penerima tetap menjadi prioritas utama.
“Jangan asal harga pas, sementara keseimbangan gizinya luput dari perhatian,” pungkasnya. (dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh