Radar Jember - Penurunan angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jember tampaknya masih akan menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diseriusi oleh pemerintah daerah.
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Jember mengaku memberikan perhatian serius terhadap disparitas akses kesehatan di wilayah pedesaan.
khususnya pada daerah-daerah dengan kondisi geografis menantang yang selama ini sulit terjangkau layanan medis standar.
Kepala Dinkes PPKB Muhammad Zamroni menyatakan, wilayah pinggiran seperti Kecamatan Jelbuk dan area perkebunan luas di Jember, diidentifikasi memiliki tingkat kerentanan kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan.
Hal ini disebabkan oleh jarak tempuh dan keterbatasan fasilitas kesehatan di titik-titik terpencil tersebut.
"Kalau dari 31 kecamatan, yang pasti yang banyak (kasus) itu daerah pinggiran, seperti di Jelbuk," kata Zamroni saat ditemui, beberapa pekan lalu, saat penerjunan nakes, (26/01).
Kondisi medan yang sulit di wilayah perkebunan seringkali menjadi penghambat bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan rutin. Skema pelayanan kesehatan dari pasif menjadi aktif dengan mendatangi langsung pemukiman warga di pelosok, harus menjadi opsi demi misi menurunkan AKI-AKB ini optimal.
Zamroni mengakui pemerintah daerah perlu mengakomodasi warga di wilayah pinggiran tersebut agar hak kesehatannya terabaikan hanya karena kendala infrastruktur. Salah satu upayanya secara door to door.
"Makanya nanti ada homecare itu dikhususkan dan diutamakan ke daerah-daerah yang sulit medannya untuk dijangkau," jelas dia.
Dengan prioritas pada daerah pinggiran, diharapkan angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan secara merata di seluruh Kabupaten Jember.
"Jadi pelayanan ini lebih ke arah pendampingan terkait deteksi dini kondisi ibu hamil dan yang risiko tinggi di lapangan," imbuh Zamroni. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh