Radar Jember - Fenomena brainrot makin sering diperbincangkan, terutama di era banjir konten digital.
Istilah ini menggambarkan kondisi ketika pikiran terasa tumpul akibat paparan video pendek, meme repetitif, hingga tren absurd yang dikonsumsi berulang-ulang.
Tanpa disadari, kebiasaan scroll tanpa henti di platform seperti TikTok dan Instagram (Reels) dapat memicu gangguan konsentrasi dan fokus jangka panjang.
Gejalanya sederhana, namun mengganggu.
Fokus mudah terpecah, sulit membaca atau menyimak materi serius, hingga pikiran terus terngiang potongan audio viral.
Dalam jangka panjang, kondisi ini tak sekadar soal kebiasaan digital, tetapi berpotensi berdampak pada kesehatan otak.
Dosen Prodi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Unmuh Jember, Dr Wahyudi Widada menjelaskan, fenomena brainrot berkaitan dengan penurunan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF).
Zat ini merupakan bagian dari neurotrofin yang berperan penting dalam pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan diferensiasi sel saraf.
“BDNF sangat vital dalam menjaga plastisitas dan fungsi neuron,” ujarnya.
Sejumlah penelitian menunjukkan, kadar BDNF yang rendah ditemukan pada pasien depresi, skizofrenia, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer's disease dan Parkinson's disease.
Bahkan, pada pasien stroke, rendahnya BDNF berkorelasi dengan peningkatan risiko depresi pasca stroke serta penyusutan volume hipotalamus.
Hipotalamus sendiri merupakan bagian otak yang berperan dalam memori dan pengaturan emosi.
Penurunan dukungan neurotrofik akibat rendahnya BDNF dapat memicu perubahan struktural, termasuk atrofi jaringan. Pada depresi mayor, volume hipotalamus dilaporkan menyusut hingga 5 sampai 10 persen.
Kabar baiknya, berbagai studi dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa puasa dan intermittent fasting berpotensi meningkatkan kadar BDNF, khususnya di hipotalamus.
Mekanismenya berkaitan dengan fase ketosis yang terjadi setelah 12–16 jam tanpa asupan kalori.
Saat cadangan glikogen menipis, tubuh mulai memecah lemak dan menghasilkan B-hydroxybutyrate (BHB).
Senyawa ini tak hanya menjadi sumber energi alternatif bagi otak, tetapi juga bertindak sebagai molekul sinyal yang memicu ekspresi gen BDNF.
Peningkatan BDNF inilah yang memberi efek neuroprotektif atau perlindungan pada sel-sel otak. Dengan demikian, puasa bukan sekadar ibadah atau pola makan, melainkan juga strategi biologis yang mendukung kesehatan otak.
“Peningkatan BDNF membantu menjaga plastisitas neuron, memperbaiki fungsi jaringan saraf, serta berpotensi melindungi otak dari dampak brainrot akibat paparan konten digital berlebihan,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh