PAKIS, Radar Jember – Pemasangan bronjong di bagian hulu Dam Klatakan, Desa Pakis, Kecamatan Panti, belum berjalan maksimal. Tingginya intensitas curah hujan menyebabkan pekerjaan kerap terhenti, bahkan sejumlah bronjong yang sudah terpasang sempat terseret banjir.
Kondisi serupa juga terjadi pada pemasangan bronjong di aliran Sungai Petung, mulai dari Dam Gluduk III di Desa Pakis. Saat bronjong mulai tertata dan diisi batu, hujan deras kembali turun hingga memicu banjir dan membuat susunan bronjong berantakan.
Maknur, juru pada bagian Gugut Kantor UPT BMSDA Rambipuji, menjelaskan bahwa pemasangan bronjong sepanjang 30 meter tersebut bertujuan untuk menaikkan debit air sungai agar dapat mengalir ke saluran irigasi di bagian hilir.
Langkah itu dilakukan karena sejak Dam Klatakan jebol diterjang banjir, belum ada perbaikan permanen.
“Sehari sebelumnya ada empat bronjong yang ikut terseret banjir. Pasangan yang sudah tertata dan tinggal mengisi batu juga dipenuhi sampah akibat banjir,” ujarnya.
Sementara itu, Sariyanto, Ketua Gabungan HIPPA Klatakan Jaya Panti, mengatakan kerusakan dam mengakibatkan saluran irigasi tidak dapat mengalirkan air ke area persawahan.
Dampaknya, sekitar 244 hektare sawah di Desa Pakis, Desa Kenuningsari Lor, dan Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, tidak mendapatkan pasokan air.
Padahal, sebagian petani telah memulai masa tanam dan lainnya tengah bersiap menanam padi. Ia menyebut terdapat dua dam yang mengalami kerusakan sehingga irigasi tidak berfungsi. “Ketika hujan deras, pemasangan bronjong terpaksa dihentikan karena alat berat milik PU BMSDA Jember harus dinaikkan dari lokasi sungai,” pungkasnya. (jum/dwi)
Editor : M. Ainul Budi