Radar Jember - Godaan meja makan saat azan Magrib berkumandang sering kali sulit ditahan.
Aneka takjil, gorengan, hingga makanan berat tersaji sekaligus. Tanpa sadar, perut yang kosong seharian justru dipaksa kerja lembur dalam waktu singkat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Siloam Jember, dr Agus Yudho Santosa, mengatakan pola pembagian porsi makan selama Ramadan punya peran penting agar tubuh tetap prima.
Secara umum, kebutuhan makan selama puasa bisa dibagi dalam tiga waktu.
Sahur sekitar 40 persen, berbuka 50 persen, dan sisanya 10 persen setelah Tarawih.
Skema ini bukan sekadar angka, melainkan strategi agar energi masuk bertahap dan tubuh tidak kaget setelah berjam-jam tanpa asupan.
Pada waktu sahur, porsi 40 persen sebaiknya dimanfaatkan untuk mengisi bekal energi seharian.
Menu yang dianjurkan mengandung karbohidrat kompleks, protein, serta sayur, dan buah.
Karbohidrat kompleks membantu rasa kenyang lebih lama, sementara protein menjaga daya tahan dan massa otot.
Air putih 2 hingga 3 gelas sebelum imsak juga penting untuk mengurangi risiko dehidrasi.
Ketika berbuka, konsumsi makanan sebaiknya tidak langsung berat. Sekitar 10 persen bisa diisi dengan minuman atau makanan manis secukupnya untuk mengembalikan kadar gula darah.
Setelah shalat magrib, barulah dilanjutkan dengan makanan utama sekitar 40 persen dari kebutuhan harian. Rentang waktu ini memberi kesempatan lambung beradaptasi.
Sementara itu, setelah Tarawih cukup 10 persen saja. Bentuknya bisa camilan ringan atau buah.
Tambahan 1 hingga 2 gelas air putih membantu memenuhi kebutuhan cairan harian yang belum tercukupi.
Kebiasaan makan berlebihan saat berbuka, menurutnya, kerap memicu keluhan pencernaan.
“Perut yang kosong lama itu volumenya mengecil. Kalau langsung diisi banyak dan tinggi lemak, bisa timbul rasa begah, mual, bahkan nyeri ulu hati,” jelasnya.
Pola makan bertahap membuat tubuh menyesuaikan diri secara alami. Agus Yudho juga mengingatkan agar masyarakat tidak terpaku pada makanan manis dan gorengan.
“Yang lebih penting itu komposisi gizinya seimbang. Ada karbohidrat, protein, serat, serta cukup cairan. Itu yang menjaga stamina tetap stabil selama puasa,” tambahnya.
Dengan pengaturan sederhana namun konsisten, ibadah puasa bisa dijalani tanpa keluhan berarti.
Tubuh tetap bertenaga, aktivitas berjalan lancar, dan momen Ramadan pun terasa lebih nyaman hingga waktu berbuka berikutnya tiba. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh