KALIWATES, Radar Jember - Pada Jum'at, 20 Februari 2026, tepat satu tahun sudah perjalanan pemerintahan Kabupaten Jember di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Fawait sejak dilantik pada 20 Februari 2025 lalu.
Sepanjang 365 hari ini, wajah Jember diwarnai dengan berbagai dinamika yang cukup beragam.
Mulai dari upaya realisasi program kerja yang ambisius, tantangan birokrasi yang kompleks, hingga riak kontroversi yang kerap menghiasi ruang publik.
Baca Juga: Daftar Megaproyek Strategis Menteri PU di Jember: Flyover, Pasar, Hingga 50 Bendung Prioritas
Melihat capaian satu tahun ini, pengamat kebijakan publik sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi Politik UIN KHAS Jember, Dr. Kun Wazis, memberikan analisis mendalam mengenai arah kemudi pemerintahan di Kabupaten Jember.
"Sebagai Bupati yang sudah menjadi milik warga Jember, tentu kebijakan yang diharapkan adalah yang berpihak pada kepentingan masyarakat banyak, bukan pada kepentingan elit tertentu agar arah kebijakan betul-betul menyentuh aspek yang diinginkan rakyat," katanya, kepada Jawa Pos Radar Jember, Jum'at (20/2/2026).
Kun Wazis menyoroti bahwa isu krusial yang harus tetap menjadi fokus utama Bupati Fawait adalah pengentasan kemiskinan.
Salah satu yang menjadi titik tekannya yakni keterlibatan akademisi secara serius.
Menurut dia, pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendirian; namun diperlukan riset mendalam dari para peneliti untuk melahirkan langkah strategis yang konkret.
Salah satu instrumen utamanya adalah pemberdayaan ekonomi melalui sentra-sentra UMKM di tingkat lokal yang harus lebih dimassifkan hingga ke pelosok wilayah kabupaten.
Lebih lanjut, Kun Wazis mengapresiasi keberadaan program seperti 'Mlijo Cinta' yang mulai dikenal masyarakat sebagai terobosan lokal.
Baca Juga: Denda Maksimal Rp500 Ribu Menanti Pelanggar Parkir di Jember, Ini Lokasi Sasarannya
Namun, ia memberikan catatan kritis agar program-program tersebut tidak hanya menjadi euforia sesaat.
"Saya kira sudah cukup baik untuk pemberdayaan UMKM lainnya. Itu sebuah terobosan yang bagus. Namun, yang harus dikawal adalah bagaimana upaya-upaya ini bisa terus bertahan dan berakselerasi dengan kebutuhan masyarakat, agar tidak terkesan hanya euforia atau sekadar 'gebyar' sesaat saja," katanya.
Ia juga menilai, tantangan terbesar bagi pemerintahan saat ini adalah menjaga akselerasi program agar tetap relevan dengan kebutuhan riil masyarakat di tengah dinamika ekonomi global.
Sektor pariwisata juga tak luput dari analisisnya, di mana Jember memiliki keunggulan komparatif dengan keberadaan lebih dari 600 pondok pesantren.
Kun Wazis mendorong Bupati Gus Fawait untuk lebih serius menyentuh potensi wisata religi berbasis pesantren agar menjadi destinasi spiritual yang kuat. Strategi ini dinilai mampu menggerakkan ekonomi di pedesaan, sehingga pusat pertumbuhan ekonomi tidak hanya tersentralisasi di wilayah perkotaan saja, tetapi juga menyebar ke titik-titik pelosok.
Namun, di balik program-program tersebut, Kun Wazis mencermati adanya tantangan internal terkait harmonisasi kepemimpinan antara Bupati dan Wakil Bupati.
"Perlu ditampilkan bentuk 'cinta' dalam kepemimpinan di hadapan publik," serunya.
Baca Juga: Bawa Mandat Presiden, 3 Menteri Giliran Turun Gunung Benahi Infrastruktur Jember dalam 48 Jam
Baginya, sinergitas di pucuk pimpinan adalah kunci utama agar produk kebijakan tidak bersifat tumpang tindih. Publik perlu melihat adanya kekompakan yang ditampilkan secara tulus, karena pemimpin merupakan teladan yang akan dicontoh oleh masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial di Jember.
"Harmonisasi antara Bupati dan Wakil Bupati perlu ditampilkan sebagai bentuk teladan. Jangan sampai ada disharmonisasi atau tarikan kepentingan yang berbeda, agar produk kebijakan merupakan paket yang akseleratif bagi kepentingan rakyat," urai Kun Wazis.
Di sisi infrastruktur, pembangunan jalan dan penerangan hingga ke desa-desa dinilai sudah berjalan sebagai rutinitas yang wajib dikawal.
Namun, Kun Wazis menekankan bahwa kualitas pendidikan dan isu-isu kesejahteraan seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga harus mendapatkan perhatian serius untuk memastikan penyalurannya tepat sasaran.
Hal ini penting demi menjaga kepercayaan publik yang sempat diwarnai dinamika dan pro-kontra selama satu tahun terakhir.
Sebagai penutup analisisnya, Kun Wazis menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Jember kembali menghidupkan agenda tahunan berbasis tradisi seperti Can-macanan Kadduk dan seni tradisional lainnya sebagai daya tarik internasional.
Dengan integrasi paket wisata bersama daerah tetangga, Jember diyakini mampu bersaing sebagai destinasi pilihan utama. Penajaman kebijakan di tahun kedua menjadi sangat krusial bagi Bupati Fawait untuk membuktikan janji-janji politiknya secara lebih terukur.
"Satu tahun pertama ini memang perlu upaya penajaman. Bagaimana pesantren diberdayakan sebagai wisata religi dan agenda seni tradisional diakselerasi dengan paket wisata nasional, sehingga Jember benar-benar menjadi destinasi pilihan yang kuat," imbuh Kun Wazis. (mau)
Editor : M. Ainul Budi