Radar Jember - Pemerintah daerah tengah memacu transformasi besar pada sektor kesehatan untuk menjadikan Rumah Sakit Daerah (RSD) sebagai pusat rujukan yang mandiri secara finansial.
Langkah ini diambil menyusul performa positif sektor kesehatan yang mencatatkan lonjakan pendapatan signifikan dalam setahun tahun terakhir.
Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa pengembangan RSD merupakan fokus jangka pendek yang paling krusial.
Hal ini didasarkan pada data angka keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR), yang disebutnya tetap tinggi serta peningkatan pendapatan yang sangat drastis.
"Pendapatan rumah sakit kita di awal saya menjabat sekitar Rp15 miliar sebulan, sekarang sudah menyentuh angka Rp31 miliar," kata Gus Fawait, (13/02).
Lonjakan signifikan pendapatan rumah sakit pelat merah Pemkab Jember ini tidak lepas dari impact Progres Universal Health Coverage (UHC) Prioritas yang disokong dengan anggaran segar.
Jika pada 2025 dialokasikan Rp366,8 miliar, maka pada tahun 2026 naik menjadi sekitar Rp430 miliar.
Alokasi itu bukan saja membuat pendapatan rumah sakit naik, namun juga menjadi indikator upaya mengatasi krisis kesehatan di Jember mendapat kepercayaan dari masyarakat.
"Artinya (kenaikan BOR dan pendapatan rumah sakit) kepercayaan masyarakat mulai tumbuh," imbuh dia.
Terpisah, Sekretaris Komisi C DPRD Jember, David Handoko Seto, mengapresiasi inovasi layanan di lapangan, salah satunya peresmian Klinik Platinum One Stop Service di RSD dr Soebandi.
David menilai, hadirnya fasilitas premium ini tidak hanya berbanding lurus dengan peningkatan performa finansial daerah.
Namun, juga bukti nyata upaya rumah sakit memberikan kenyamanan maksimal, melalui penanganan dokter spesialis senior dalam satu area terintegrasi.
"Segi pendapatan tahun ini sudah meningkat dua kali lipat. Ini akan memberikan kontribusi luar biasa bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jember," katanya, saat meninjau fasilitas tersebut, (18/2).
Menurut David, kemudahan administrasi dan kenyamanan yang ditawarkan Klinik Platinum adalah kunci untuk menarik lebih banyak pasien, yang pada akhirnya akan memperkuat kemandirian finansial rumah sakit.
Dengan pendapatan yang kini telah menembus angka Rp31 miliar per bulan, David berharap RSD dr. Soebandi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada skema konvensional APBD di masa depan.
"Ini menjadi harapan agar RSD dr. Soebandi, sebagaimana disampaikan Gus Bupati, menjadi rumah sakit terbaik di ujung timur Pulau Jawa yang mampu memperbaiki layanan secara mandiri," pungkas legislator Partai NasDem itu. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh