Radar Jember - Gagasan tentang pembangunan yang berkeadilan ekologis mengemuka dalam Kajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir yang hadir secara hybrid melalui Zoom Meeting, menyoroti keras praktik kapitalisme serakah yang dinilainya menjadi salah satu penyebab kerusakan bumi.
Dalam iftitahnya, Haedar menegaskan bahwa Islam memiliki konsep ekoteologi, yakni pandangan teologis yang menempatkan manusia sebagai khalifah dengan mandat memakmurkan bumi.
Amanah tersebut, kata dia, bukan sekadar hak mengelola, melainkan tanggung jawab menjaga agar alam tidak rusak akibat keserakahan manusia.
Menurut Haedar, bumi beserta isinya laut, daratan, mineral, hingga sumber energi merupakan karunia Allah yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan.
Namun, pemanfaatan itu tidak boleh lepas dari nilai-nilai Islam.
“Bangunlah, makmurkan, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak. Itulah konsep dasarnya,” tegasnya di hadapan peserta kajian.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada dua kutub ekstrem dalam memandang alam.
Pertama, pendekatan eksploitatif yang rakus demi keuntungan jangka pendek hingga menimbulkan krisis ekologis.
Kedua, sikap membiarkan potensi alam tanpa pengelolaan atas nama pelestarian, namun mengabaikan kebutuhan hidup manusia. Keseimbangan, menurutnya, menjadi kunci.
Haedar menyebut, peradaban tidak mungkin dibangun tanpa kemakmuran.
Tetapi kemakmuran yang dicapai dengan merusak lingkungan justru akan menjadi bumerang.
Di sinilah ekoteologi menemukan relevansinya, membangun dengan kesadaran moral agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
Ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang adil serta political will negara dalam tata kelola sumber daya alam.
Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah harus mampu menghadirkan kesejahteraan rakyat tanpa menggadaikan masa depan lingkungan.
Upaya itu, lanjutnya, membutuhkan kecerdasan kolektif dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.
Dalam konteks tersebut, Muhammadiyah dinilai memiliki posisi strategis sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan. Melalui jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, serta penguatan ekonomi umat, Muhammadiyah diharapkan dapat berkontribusi membangun sumber daya manusia yang mandiri sekaligus berkesadaran ekologis.
Menutup pemaparannya, Haedar mengajak peserta menjadikan perspektif Alquran sebagai dasar merumuskan solusi atas persoalan kebangsaan, termasuk krisis lingkungan.
Dunia dan akhirat, ujarnya, merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
"Bangunlah dengan ihsan, bangunlah dengan Islam, tetapi jangan merusak. Itulah ekoteologi yang sesungguhnya,” pungkasnya. (ika/dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh