Radar Jember - Aksi kriminalitas dengan alasan kebutuhan ekonomi nekat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan itu.
Saat bulan puasa, semua pihak berharap agar tindak pidana kriminalitas tersebut bisa ditekan.
Potensi tindak pidana kriminalitas memang tidak mengenal tempat dan waktu.
Bahkan, saat memasuki hari-hari besar keagamaan seperti bulan suci Ramadan, terjadinya kejahatan bisa kapan saja dan di mana saja.
Seiring berjalannya bulan suci Ramadan 2026, kekhusukan ibadah masyarakat tidak lepas dari bayang-bayangi kriminalitas.
Tekanan ekonomi yang meningkat menjelang hari raya Idul Fitri, seringkali menjadi pemicu seseorang berbuat nekat dan mengambil jalan pintas.
Seperti kata pepatah, kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya, tetapi juga karena adanya kesempatan akibat keteledoran masyarakat dalam menjaga harta bendanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, aksi nekat para pelaku kriminal kini seolah tak lagi mengenal waktu dan tempat.
Contoh seperti di Kecamatan Ambulu, sebuah klinik menjadi sasaran pencurian sepeda motor pada Senin (16/02) sekitar pukul 03.35 dini hari.
Aksi yang terekam jelas oleh kamera CCTV tersebut memperlihatkan betapa cepatnya pelaku beraksi di saat warga tengah bersiap memulai aktivitas subuh. Video ini pun sempat viral dan memicu keresahan warga di media sosial.
Namun, tidak semua pelaku berhasil meloloskan diri. Kasus lain misalnya, di Kecamatan Wuluhan, pada 20 Januari 2026 lalu, seorang terduga pencuri motor berinisial P menjadi bulan-bulanan warga setelah tertangkap basah.
Massa yang geram menghakimi pelaku hingga babak belur sebelum akhirnya digelandang polisi ke rumah sakit.
Mirisnya, berdasarkan catatan kepolisian, P merupakan seorang residivis yang pernah mendekam di penjara atas kasus serupa.
Di tengah gencarnya upaya pemberantasan kriminalitas, muncul sebuah ironi pahit dari Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Jember.
Seorang warga yang baru saja kehilangan uang tabungan sebesar Rp 50 juta dari brankas rumahnya, justru dilaporkan balik ke Polsek Sumberjambe atas dugaan perampasan sepeda dan pengancaman.
Merasa mendapat ketidakadilan, korban akhirnya melapor ke Polres Jember Rabu (18/2) lalu. Nomor laporannya LPM/182/II/2026/SPKT/Polres Jember guna mencari keadilan atas musibah yang menimpanya.
Rentetan kasus-kasus tersebut seolah menegaskan bahwa kasus tindak pidana semakin terang-terangan dan makin nekad.
Berdasarkan data resmi, sepanjang tahun 2025, Polres Jember mencatat total 1.183 kasus kriminalitas dengan penyelesaian perkara mencapai 2.102 perkara (termasuk tunggakan tahun sebelumnya).
Kapolres Jember AKBP Bobby A. Condroputra, dalam keterangan terbukanya, akhir Desember 2025 kemarin mengungkapkan adanya kenaikan tipis sebesar 0,93 persen dibandingkan tahun 2024.
"Jika dibandingkan dengan tahun 2024, memang ada perbedaan. Pada tahun 2024, yang tertinggi tetap penganiayaan ringan, namun urutan kedua adalah curanmor dan urutan ketiga adalah perlindungan anak," kata perwira lulusan Akpol 2005 tersebut.
Awal tahun 2026 kemarin Polres Jember telah melakukan penyegaran organisasi dengan serah terima jabatan (sertijab) 8 Kapolsek.
Langkah ini diambil untuk memperkuat pelayanan dan memastikan operasi rutin seperti Operasi Sikat Semeru berjalan maksimal, terutama dalam menekan kejahatan kategori Curat, Curas, dan Curanmor (3C).
Sementara itu, Budi, 32, warga Sumbersari menyebut, saat puasa, maling dan pelaku kejahatan bisa saja beraksi saat tarawih.
"Kalau mau lebaran begini, biasanya maling lebih berani. Kami harap patroli di jam-jam rawan, seperti saat tarawih atau menjelang subuh, lebih ditingkatkan," katanya.
Di sisi lain, Fadila, 38, warga Desa/Kecamatan Rambipuji berharap agar selama bulan puasa ketertiban dan keamanan bisa dijaga lebih ketat lagi oleh kepolisian.
Warga lain, baik di perkotaan maupun pedesaan, menyuarakan kekhawatiran yang sama dan berharap patroli lebih maksimal.
"Kalau kami inginnya bisa ibadah tenang, saudara-saudara juga, tidak ada cerita-cerita sampai motor di parkiran masjid atau di rumah hilang saat ditinggal salat. Polisi harus lebih sering masuk blusukan tah, ke desa-desa," harapnya (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh