Radar Jember – Sejak pagi, jemaat mulai berdatangan ke Kelenteng Pai Lien San untuk melaksanakan ibadah Tahun Baru Imlek.
Aroma dupa menyeruak memenuhi area kelenteng, sementara lilin-lilin merah besar menyala di sejumlah sudut tempat ibadah tersebut.
Sekitar pukul 08.00, warga dari berbagai wilayah di Jember mulai memenuhi area kelenteng.
Mereka menyalakan dupa dan menancapkannya di altar sebagai bagian dari rangkaian doa pergantian tahun menurut tradisi Tionghoa.
Ketua pengurus kelenteng, Hery Novem Stadiono, menjelaskan ibadah di tempat tersebut diikuti umat dari tiga ajaran yang bernaung dalam tradisi Tridharma, yakni Konghucu, Buddha Mahayana, dan Tao.
Selain ibadah, pengurus juga menyiapkan hidangan khas untuk jemaat yang datang merayakan Imlek bersama keluarga.
Ia menjelaskan, tradisi membakar dupa memiliki makna mendalam sebagai sarana membantu jemaat lebih fokus saat berdoa.
Aroma dupa diharapkan membuat pikiran lebih khusyuk sehingga doa yang dipanjatkan menjadi lebih tenang.
Doa yang disampaikan umumnya bersifat pribadi, namun sebagian besar umat memohon kesehatan, keselamatan, umur panjang, serta keberkahan sepanjang tahun.
“Harapan umat biasanya agar diberi kesehatan dan rezeki yang baik di tahun baru ini,” ujarnya.
Hery juga menjelaskan makna Tahun Kuda Api yang menjadi simbol tahun ini. Api diibaratkan bermanfaat saat terkendali, namun dapat menjadi bencana jika tidak dijaga.
Sementara kuda melambangkan kekuatan dan energi besar, sehingga manusia diingatkan agar mampu mengendalikan diri dalam menghadapi dinamika kehidupan sepanjang tahun berjalan.
“Artinya kita harus bisa menjaga diri agar kekuatan yang ada membawa manfaat,” katanya.
Rangkaian ibadah biasanya berlangsung hingga sekitar pukul 12.00. Setelah itu, jemaat kembali ke rumah masing-masing untuk berkumpul bersama keluarga.
Tidak sedikit pula umat yang datang dari luar kota memanfaatkan libur panjang untuk pulang kampung sekaligus beribadah di kelenteng tersebut.
Menurut Hery, kelenteng ini dahulu menjadi tempat singgah warga Tionghoa perantauan.
Seiring waktu, terjadi proses asimilasi dengan masyarakat sekitar sehingga kini kelenteng menjadi ruang ibadah bersama yang juga terbuka bagi warga lokal.
“Sekarang sudah menyatu dengan masyarakat sekitar dan menjadi bagian dari kehidupan warga di sini,” pungkasnya.(yul/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh