Radar Jember – Banjir besar menerjang 10 kecamatan di Kabupaten Jember dan merendam 23 desa.
Sebanyak 7.445 kepala keluarga terdampak dalam peristiwa banjir pekan kemarin tersebut.
Luapan Sungai Bedadung dan Sungai Dinoyo yang dipicu hujan ekstrem dari kawasan Pegunungan Argopuro menyebabkan ratusan warga mengungsi, kerusakan infrastruktur, hingga satu korban jiwa akibat sengatan listrik.
Di tengah kondisi tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait bergerak cepat memimpin proses pemulihan.
Pemerintah Kabupaten Jember menetapkan status tanggap darurat guna memastikan seluruh sumber daya difokuskan pada keselamatan warga serta distribusi logistik di titik-titik terdampak, seperti Rambipuji, Balung, dan Wuluhan.
“Status tanggap darurat kami tetapkan sejak 12 hingga 24 Februari. Kami berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk memastikan keselamatan warga,” ujar Fawait dalam keterangan virtualnya, Senin (16/2).
Meski air telah surut di sebagian besar wilayah, Pemkab Jember tetap mengintensifkan langkah pemulihan.
Fokus diarahkan pada normalisasi aliran sungai serta perbaikan tanggul yang jebol guna mencegah banjir susulan.
Fawait menegaskan, langkah tersebut merupakan komitmen jangka panjang untuk memperkuat sistem drainase agar bencana serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Alhamdulillah, kondisi saat ini relatif normal. Air sudah surut dan warga yang sempat mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing,” katanya.
Menindaklanjuti peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan, Fawait menginstruksikan seluruh jajaran tetap siaga.
Mitigasi bencana menjadi prioritas untuk membangun Jember yang lebih tangguh menghadapi tantangan alam.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap waspada. Empati dan gotong royong menjadi kunci agar Jember dapat pulih,” pungkasnya. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh