RadarJember - Lantai 2 pasar Tanjung terlihat lenggang. Para pedagang sibuk merapikan dagangannya masing-masing.
Pedagang ayam menyeka meja potongnya, sementara pedagang sayur menata ulang sayurannya. Mereka berharap kerapian bisa mengusir sepinya rezeki hari itu.
Deretan daging ayam potong tertata rapi diatas meja, bulu-bulu halus masih menempel di beberapa bagian.
Bau khas pasar bercampur dengan aroma air sabun dari ember di sampingnya.
Di sudut pasar yang mulai kehilangan riuhnya Devi, salah seorang pedagang, duduk di bangku kayu di depan kiosnya.
Pagi itu suasana lantai 2 pasar Tanjung sepi tak terdengar suara tawar-menawar. Hanya ada bunyi langkah kaki yang sesekali lewat, lalu hilang di lorong pasar.
Devi, hanya terlihat duduk menatap layar ponsel sambil sesekali mengusir lalat yang berterbangan di sekitar dagangannya.
“Kalo pagi emang agak sepi Mbak, siang nanti mulai ada pembeli,” ujarnya.
Tangannya kembali bergerak mengatur ayam, meluruskan kain lap, menata timbangan agar menghadap ke depan.
Katanya beberapa hari terakhir ini memang sedang sepi pembeli. Biasanya Devi bisa menghabiskan 1 kuintal ayam per hari.
Namun kini ia hanya membawa 50 ekor ayam. Kenaikan harga ayam memang mempengaruhi penjualannya.
Harga kebutuhan pokok berupa daging ayam dan cabai di Pasar Tanjung, mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
Harga daging ayam sebelumnya berkisar Rp32 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.
“Biasanya kalo naik ngga separah ini paling tinggi tahun kemarin 36 ribu, tapi ini ngga tau kok bisa naik segitu,” ungkapnya.
Sementara itu, harga cabai rawit merah melonjak Rp90 ribu—Rp100 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan pasokan. Fahrul menjelaskan bahwa pasokan cabai berkurang akibat cuaca yang kurang mendukung.
“Kalo Ramadan ini kayaknya ngga ngaruh, sekarang naiknya masih karena cuaca itu,” terangnya.
Para penjual dan pembeli berharap agar pemerintah daerah dapat melakukan langkah stabilisasi harga, terutama menjelang meningkatkan kebutuhan masyarakat seperti Ramadan dan Lebaran.
Apalagi, sekali pun harga barang kebutuhan pokok dan barang penting (Bapokting), upah minimum kabupaten (UMK) juga tidak naik.
Untuk itu perlu langkah nyata dan terobosan agar harga Bapokting tidak semakin mahal saat Bulan Puasa Mau pun menjelang Hari Raya Idul Fitri nanti.
Akankah harga daging ayam, cabai, dan barang lain akan lebih mahal, stagnan, atau pemerintah bisa menurunkan harga tersebut? (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh