Radar Jember - Harga sejumlah bahan pokok penting (bapokting) di Jember mulai melonjak menjelang Ramadan. Cabai dan daging ayam menjadi pemicu utama kenaikan pekan ini.
Permintaan meningkat dan pasokan terganggu akibat cuaca ekstrem disebut sebagai faktor pemicunya.
Awal tahun belum benar-benar berlalu, tetapi harga barang kebutuhan pokok dan barang penting (Bapokting) di Jember sudah menanjak tajam.
Kenaikannya terasa hampir di semua pasar, terutama pada komoditas cabai dan daging ayam. Dalam waktu satu setengah bulan, sebagian harga bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat.
Berdasar data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim, perubahan drastis terjadi di sejumlah komoditas bumbu dapur.
Misalnya cabai rawit yang awal Januari masih Rp 41.800 per kilogram, lalu meroket menjadi Rp 91.400 per kemarin (15/2).
Cabai merah besar pun ikut naik dari Rp 20.400 menjadi Rp 26.800 per kilogram. Sementara daging ayam ras merangkak dari Rp 34.400 menjadi Rp 39.400 atau Rp 40.000.
Lonjakan bertahap itu memperlihatkan tren klasik menjelang Ramadan ketika konsumsi rumah tangga mulai meningkat. Di lapak bumbu dapur, perubahan harga terasa paling mencolok pada cabai.
Harga pasarnya juga selisih cukup jauh dibandingkan data yang dihimpun pemerintah. Pedagang Pasar Tanjung, Luluk, mengatakan, kenaikan berlangsung cepat hanya dalam hitungan hari.
Hal ini menyulitkan pedagang menyesuaikan harga jual. Cabai rawit pun kini menembus hampir Rp 100 ribu lebih per kilogram.
“Sekarang saja harganya Rp 99 ribu per kilogram,” ujarnya saat ditemui, Sabtu lalu (14/2).
Di lapak lain, harga cabai rawit dengan kualitas super juga tak kalah mahalnya. Fahrul, pedagang lain mengaku mengurangi stok cabai.
Sebab, harganya jauh di atas harga normal. “Tembus Rp 110 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Kenaikan tak hanya dipicu permintaan, tetapi juga faktor cuaca. Curah hujan tinggi menyebabkan banyak tanaman hortikultura membusuk dan panen terganggu sehingga pasokan berkurang.
Kondisi itu membuat distribusi tersendat dan harga melonjak di tingkat pasar. Fenomena serupa sebelumnya juga memicu kenaikan bawang merah akibat risiko gagal panen.
Pada komoditas protein, harga ayam ras ikut terkerek naik meski tidak sedrastis cabai. Pedagang ayam, Devi Kusumawati, menyebut harga kini menyentuh Rp 40 ribu per kilogram, padahal biasanya berkisar Rp 30—32 ribu.
Ia mengaku pembeli mulai mengurangi jumlah belanja karena harga terasa berat menjelang Ramadan. “Normalnya Rp 30 ribuan, tapi beberapa hari terakhir naik,” katanya.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat komoditas seperti cabai dan daging ayam termasuk penyumbang fluktuasi inflasi bulanan.
Pada Januari lalu, keduanya bahkan masuk daftar komoditas dominan yang memengaruhi pergerakan harga daerah.
Artinya, kenaikan saat ini berpotensi memberi tekanan baru pada inflasi Februari hingga awal Ramadan.
Jika tren berlanjut, pasar diperkirakan masih akan bergejolak dalam beberapa hari ke depan. Permintaan rumah tangga meningkat, sementara produksi pertanian belum sepenuhnya pulih akibat cuaca ekstrem.
Kombinasi dua faktor itu membuat harga sulit segera turun. Bagi masyarakat, perlu dipahami bahwa belanja dapur kini bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi strategi menyesuaikan isi dompet. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh