RadarJember - Dini hari pukul 01.00, kemarin (13/2) air sudah setinggi pinggang orang dewasa.
Warga Dusun Rejosari, Desa Gumelar, Kecamatan Balung, bergegas menyelamatkan diri. Masjid Al Barokah menjadi tempat perlindungan sementara.
“Anak-anak sudah saya bawa ke masjid sejak jam satu malam. Air sudah sepinggang. Barang-barang tidak sempat diselamatkan,” ujar Nurul, warga setempat.
Tak hanya menyelamatkan keluarga, warga juga berupaya mengamankan hewan ternak.
Sapi dan kambing diungsikan ke pinggir jalan raya agar tidak hanyut terseret arus. Banjir kali ini tidak hanya melanda Balung.
Data dari BPBD Jember mencatat total 3.944 kepala keluarga terdampak di 17 desa dan kelurahan pada delapan kecamatan.
Sebanyak 299 jiwa terpaksa mengungsi ke rumah warga, tempat ibadah, dan kantor desa yang dijadikan lokasi penampungan sementara.
Kepala Pelaksana BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan kenaikan debit air di sejumlah sungai secara bersamaan.
Sekitar pukul 19.00, air mulai meluap ke permukiman dengan ketinggian antara 30 sentimeter hingga dua meter.
“Banjir meluap ke pemukiman warga, menggenangi akses jalan, menyebabkan jembatan putus, serta arus lalu lintas mengalami kemacetan,” ujarnya.
Dari sisi kerusakan, tercatat tiga rumah mengalami rusak ringan. Selain itu, tiga jembatan dan satu pondok pesantren terdampak.
Wilayah dengan dampak terbesar berada di Kecamatan Rambipuji, di mana ribuan kepala keluarga merasakan langsung terjangan banjir.
Bencana ini juga memakan korban jiwa. Komandan Baret Rescue Jember, David Handoko Seto, mengungkapkan satu warga Kecamatan Rambipuji meninggal dunia.
Korban bernama Siti Nur Fadilah, warga Desa Kaliwining. “Korban meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik saat membersihkan rumahnya yang terendam banjir,” ungkapnya.
BPBD bersama Muspika, TNI/Polri, PMI, Basarnas, Dinas Sosial PPPA, Tagana, relawan, dan warga bergerak cepat melakukan evakuasi, pembersihan, serta distribusi logistik.
Dapur umum juga telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Meski banjir yang disebut sebagai terbesar kedua setelah tragedi Panti 2006 itu perlahan surut pada Jumat pagi.
Mereka kembali membersihkan halaman dan ruangan, mencoba menata ulang kehidupan yang sempat porak-poranda dalam semalam. (kin/mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh