Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Budaya Pandalungan dan Kesehatan: Bolehkah Jaga Tradisi Saat Hamil? Ini Penjelasan Ilmiah Demi Keselamatan Bayi!

M Adhi Surya • Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:00 WIB
AMBIL PERAN : Edukasi mandiri kepada masyarakat untuk menekan AKI/AKB di Jember.
AMBIL PERAN : Edukasi mandiri kepada masyarakat untuk menekan AKI/AKB di Jember.

Radar Jember  - Kasus kematian ibu, kematian bayi, hingga stunting masih menjadi pekerjaan rumah serius di Jember. Di tengah berbagai program pemerintah, masyarakat diingatkan agar tidak menelan mentah-mentah kepercayaan tradisional yang justru bisa menghambat akses layanan kesehatan.

Edukasi berbasis budaya dinilai penting agar perubahan perilaku berjalan lebih efektif dan mudah diterima. Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember, Dr Ns Awatiful Azza menyebut persoalan kesehatan ibu dan anak tidak bisa dipandang semata dari sisi medis.

Menurutnya, kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pola pengambilan keputusan dalam keluarga turut memengaruhi tingginya risiko yang dihadapi ibu hamil dan bayi. Data Dinas Kesehatan Jember mencatat, angka kematian ibu sempat berada di angka 43 kasus dan kematian bayi mencapai 325 kasus.

Pada 2025, jumlahnya menurun menjadi 27 kasus kematian ibu dan 303 kasus kematian bayi. Penurunan tersebut belum bisa membuat semua pihak lega karena angka yang ada masih tergolong tinggi.

Di sisi lain, persoalan stunting juga belum sepenuhnya teratasi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Jember berada di angka 30,4 persen, turun dari 34,9 persen pada 2022.

Meski ada tren penurunan, Jember masih masuk daerah dengan angka stunting tertinggi di Jawa Timur. Ia menilai, budaya Pandalungan yang berkembang di Jember memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memahami kesehatan dan proses pengobatan.

Ia menegaskan, nilai tradisi tetap harus dihormati, namun masyarakat juga perlu membuka diri terhadap pendekatan medis yang sudah terbukti ilmiah.

“Kepercayaan boleh dijaga, tetapi keselamatan ibu dan bayi harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Menurut dia, masih ditemukan pandangan yang menganggap risiko saat persalinan sebagai takdir semata tanpa upaya pencegahan medis. Padahal, pemeriksaan kehamilan rutin, deteksi dini risiko, serta pemenuhan gizi sejak masa kehamilan menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.

Pemkab Jember disebut telah melakukan berbagai langkah, mulai pembentukan satgas lintas sektor, peningkatan fasilitas layanan kesehatan, hingga edukasi masyarakat. Namun, upaya tersebut dinilai belum akan maksimal jika masyarakat masih lebih percaya mitos dibandingkan informasi kesehatan yang benar.

“Perubahan pola pikir menjadi kunci keberhasilan program,” katanya.

Selain pemerintah daerah, peran pemerintah desa, tokoh agama, dan organisasi masyarakat juga dinilai strategis. Dengan dukungan dana desa serta pendekatan yang dekat dengan budaya masyarakat, edukasi kesehatan bisa menjangkau hingga tingkat keluarga.

“Harapannya, kesadaran kolektif masyarakat mampu mempercepat penurunan AKI, AKB, dan stunting di Jember,” pungkasnya. (dhi/bud)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Universitas Muhammadiyah Jember #Stunting #AKI/AKB