Radar Jember - Laptop, catatan kecil, dan kebiasaan ngulik data jadi rutinitas harian Ahmad Yusril Astaghina di sela aktivitas sekolahnya.
Dari kamar sederhananya, siswa MAN 3 itu tekun membedah sistem keamanan digital hingga akhirnya menemukan celah penting pada infrastruktur nasional milik BMKG dan mendapat pengakuan resmi sebagai white hat hacker.
Rasa penasaran itu bermula dari hal sederhana. Ahmad Yusril Astaghina hanya ingin tahu satu hal.
Bagaimana sebuah sistem bisa diretas, dan bagaimana cara mencegahnya. Pertanyaan kecil itu justru membawanya masuk ke dunia yang tak semua orang pahami cyber security.
“Awalnya saya cuma ingin tahu bagaimana sistem bisa diretas dan bagaimana cara mencegahnya. Dari situ saya belajar pelan-pelan lewat internet dan praktik sendiri,” ujar Yusril, mengenang titik awal perjalanannya.
Tak ada ruang kelas khusus, tak ada laboratorium canggih. Ia belajar secara otodidak.
Malam-malamnya kerap dihabiskan di depan layar laptop, membaca forum, menonton video pembelajaran, lalu mencoba sendiri apa yang ia pelajari.
Kadang berhasil, tak jarang juga gagal.
Namun rasa penasaran itu tak pernah padam. Hingga suatu hari, proses belajar mandiri tersebut membawanya pada momen penting.
Yusril menemukan celah keamanan pada infrastruktur digital nasional milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Alih-alih memanfaatkannya, ia memilih jalur etis: melaporkan temuannya secara resmi.
“Saya memastikan semua langkah sesuai etika. Tujuannya bukan merusak, tapi membantu memperkuat sistem supaya lebih aman,” katanya.
Proses pengujian ia lakukan dengan sangat hati-hati. Setiap temuan disertai rekomendasi teknis yang jelas.
Baginya, menjadi seorang ethical hacker atau white hat hacker bukan sekadar menunjukkan kemampuan menembus sistem, tetapi memastikan sistem itu menjadi lebih kuat setelah diuji.
Ia mengaku, sempat diliputi keraguan saat pertama kali mengirim laporan ke BMKG.
Ada kekhawatiran apakah laporannya akan dianggap serius. Namun respons dari tim keamanan BMKG justru di luar dugaannya.
“Saya tidak menyangka laporan saya benar-benar ditindaklanjuti. Itu jadi motivasi besar untuk terus belajar,” ungkapnya.
Pengakuan resmi pun datang. BMKG Pusat memberikan apresiasi atas temuannya dan mengakui Yusril sebagai cyber security specialist atau white hat hacker.
Sebuah capaian yang lahir dari rasa ingin tahu yang sederhana.
Meski demikian, perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Keterbatasan fasilitas dan akses informasi kerap menjadi hambatan.
Ia harus memutar otak, mencari referensi gratis, dan mengatur waktu belajar secara disiplin.
“Kadang harus begadang untuk memahami materi yang rumit. Tapi justru dari situ saya belajar disiplin dan sabar,” tuturnya.
Bagi Yusril, dunia ethical hacking bukan semata perkara teknis—bukan hanya soal kode, server, atau celah sistem.
Ada nilai yang lebih penting. Integritas.
“White hat hacker harus punya tanggung jawab moral. Kami bekerja untuk melindungi, bukan merusak,” tegasnya.
Ke depan, Yusril ingin terus memperdalam ilmu keamanan siber.
Ia juga berharap dapat berbagi pengalaman dengan pelajar lain yang memiliki minat serupa.
Ia ingin membuktikan bahwa belajar teknologi tidak selalu harus dimulai dari fasilitas mewah atau pendidikan formal tertentu.
Yang dibutuhkan adalah konsistensi, kemauan belajar, dan komitmen pada etika.
“Saya ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa belajar teknologi dari mana saja, asalkan konsisten dan tetap menjunjung etika,” pungkasnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh