Radar Jember - Makan bergizi gratis (MBG) dirancang untuk menguatkan, bukan menguji daya tahan.
Tetapi di Jember, ada menu MBG yang dibagikan justru meninggalkan mual, diare, dan kekhawatiran.
Gejala mual, muntah, dan diare muncul hampir bersamaan, sehari setelah menu makan bergizi gratis (MBG) dibagikan.
Kepala SMPN 1 Umbulsari, Mamik Sasmiti, menjelaskan, dugaan keracunan ini bermula dari pembagian menu MBG pada Rabu (4/2).
Saat itu siswa dan guru mengonsumsi menu MBG berupa nasi putih, ayam bakar, sambal, serta lalapan kubis dan kacang panjang.
Seusai mengonsumsi itu, mereka tak mengeluhkan apapun.
Namun, kondisi itu berubah saat malam hari. Sejumlah siswa mengaku mulai merasakan gangguan pencernaan.
Keesokan harinya, Kamis (5/2) keluhan itu bermunculan. Saat di sekolah, banyak siswa terlihat antre ke kamar mandi.
Melihat situasi yang tidak biasa, pihak sekolah langsung melakukan pendataan menyeluruh terhadap siswa dari kelas VII hingga IX.
Dari hasil pendataan, sebanyak 99 siswa tercatat mengalami keluhan sakit perut, mual, muntah, hingga diare.
Selain siswa, terdapat pula 13 guru yang merasakan gejala serupa meski muncul tidak bersamaan.
“Total penerima MBG di sekolah kami 912 orang. Sedangkan yang merasakan keluhan sakit itu ada 112 orang,” kata Mamik.
Pihaknya langsung berkoordinasi dengan dapur MBG, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Umbulsari dan Puskesmas Umbulsari untuk penanganan awal.
Petugas kesehatan datang ke sekolah dan memberikan pemeriksaan serta obat sesuai keluhan masing-masing siswa.
Penanganan ini dilakukan agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih serius.
“Anak-anak ditangani sesuai keluhan, ada yang sakit perut, ada yang mual,” ujarnya.
Dari 99 siswa yang sempat dikeluhkan sakit, sebagian besar berangsur membaik setelah mendapatkan perawatan.
Namun, masih ada 15 siswa yang harus dirujuk ke Puskesmas Umbulsari untuk observasi lanjutan pada Kamis siang.
Guru dan tenaga kependidikan dipastikan telah pulih sepenuhnya.
“Semua guru yang awalnya bergejala, alhamdulillah sehat semua,” ungkap Mamik.
Perkembangan terakhir menunjukkan jumlah siswa yang dirawat terus menurun.
Kemarin pagi (6/2), enam siswa masih tercatat menjalani perawatan.
Namun, setelah observasi lanjutan, tiga siswa diperbolehkan pulang.
“Sekarang tinggal tiga. Kami memastikan pendampingan terus dilakukan hingga seluruh siswa benar-benar pulih. Mohon doanya agar semuanya sehat,” tuturnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh