Radar Jember – Banjir bandang Sungai Petung juga berdampak rusaknya bronjong saluran irigasi di Dam Gluduk.
Akibatnya, pasokan air ke area persawahan di Dusun Sumbersari, Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, terganggu.
Diketahui, pasangan bronjong itu berfungsi menaikkan air Sungai Petung ke saluran irigasi.
Bahkan, bronjong sepanjang 25 meter dilaporkan hilang terbawa arus.
Selain itu, pintu air di Dam Gluduk III juga tertutup material batu dan kayu yang terbawa arus banjir.
“Air sungai tidak bisa mengalir ke saluran irigasi. Akibatnya sawah yang sudah ditanami padi maupun yang siap tanam menjadi kekeringan,” ujar Sariyanto, Ketua Gapoktan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Klatakan Jaya, Kecamatan Panti.
Ia menjelaskan, kejadian serupa juga pernah terjadi pada 2023 lalu.
Saat itu, puluhan hektare sawah gagal dialiri air akibat Dam Gluduk III jebol.
Penanganan dilakukan dengan mengerahkan dua alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPU BMSDA) Jember.
Namun, kini kondisi serupa kembali terulang setelah bronjong hancur diterjang banjir bandang.
Sariyanto berharap perbaikan bronjong dapat segera dilakukan.
Sebab, jika tidak segera ditangani, petani di Dusun Sumbersari terancam gagal panen dan gagal tanam padi.
“Bronjong yang hancur membuat air tidak bisa naik ke saluran irigasi. Sawah menjadi kering. Bahkan untuk kebutuhan mandi dan mencuci, warga harus mencari sumber air lain,” katanya.
Akibat bronjong rusak, maka sekitar 98 hektare sawah sudah tidak mendapatkan pasokan air.
Petani pun terpaksa menunda tanam padi dan khawatir benih yang sudah disiapkan menjadi terlambat ditanam.
“Banyak petani sudah menyiapkan benih padi. Tapi kalau air belum ada, terpaksa ditunda,” lanjut Sariyanto.
Hal senada disampaikan Jumar, 50, petani asal Dusun Sumbersari.
Ia mengaku umur benih padinya sudah melewati masa ideal tanam.
“Biasanya benih padi ditanam umur 25 hari. Sekarang sudah 27 hari, itu sudah terlambat,” katanya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh