JEMBER LOR, Radar Jember - Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) dilangsungkan di Alun-alun Jember, Minggu (1/2).
Ini menjadi momentum reflektif bagi warga nahdliyin dan masyarakat luas. Satu abad usia NU dimaknai sebagai fase peneguhan peran, bukan sekadar catatan sejarah organisasi.
Ketua Panitia Pelaksana Muhammad Nurul Huda menegaskan bahwa NU sejak awal lahir dan tumbuh bersama umat.
Menurutnya, kekuatan NU terletak pada keberpihakannya terhadap kehidupan riil masyarakat, baik dalam urusan sosial, keagamaan, maupun kebudayaan.
Ia menyebut peringatan satu abad ini sebagai ruang konsolidasi nilai. NU, kata Huda, harus terus hadir secara membumi dan tidak berjarak dengan persoalan umat.
“NU tidak hidup di menara gading. Ia menyatu dengan denyut masyarakat,” ujarnya.
Meski pelaksanaan acara menghadapi sejumlah keterbatasan, Huda mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Jember yang dinilai mampu menjaga semangat kebersamaan.
Sinergi tersebut dianggap penting agar peringatan satu abad tidak berhenti pada simbol, tetapi berlanjut pada kerja nyata.
Ketua PCNU Jember Syaiful Bahri menilai kolaborasi lintas sektor dalam peringatan ini mencerminkan wajah NU yang terbuka.
NU, menurutnya, tidak hanya berbicara soal keagamaan, tetapi juga berperan aktif menjawab tantangan zaman melalui dialog dan kerja sama.
Sementara itu, Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan komitmennya untuk menjaga nilai-nilai kesantrian dalam tata kelola pemerintahan.
Ia meminta para kiai dan tokoh NU terus mengawal kebijakan daerah agar tetap berpihak pada kepentingan umat.
“Sebelas bulan memimpin tentu masih banyak kekurangan. Saya mohon doa dan pengingat dari para kiai jika ada kebijakan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai NU,” ucapnya.
Pesan mendalam juga disampaikan Rais Syuriyah PBNU Prof Muhammad Nuh. Ia menekankan bahwa usia satu abad adalah anugerah sekaligus amanah besar.
NU dituntut terus memberi manfaat nyata, terutama melalui penguatan sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, agar semangat pengabdian tetap hidup lintas generasi. (dhi/nur)
Editor : M. Ainul Budi