Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Uji Nyali di Bibir Bendungan, Petugas Dam Rowotamtu Jember Hadapi Sampah dan Arus Ganas Bersenjata Gergaji dan Tampar

Maulana RJ • Jumat, 30 Januari 2026 | 08:00 WIB
DICEK BERKALA: Anton, petugas di pintu air bendungan Sungai Bedadung, Dam Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji.
DICEK BERKALA: Anton, petugas di pintu air bendungan Sungai Bedadung, Dam Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji.

Radar Jember - Di balik hamparan hijau persawahan yang membentang luas, ada peran yang bekerja di balik kebisingan.

Demi memastikan lingkungan dan sawah petani aman dari kepungan banjir, tak jarang mereka sampai berjibaku menantang maut.

Panas terik matahari siang itu memaksa dahaga datang lebih cepat. Keringat bercucuran, membasahi wajah dan punggung.

Di sudut pos pintu air bendungan Sungai Bedadung yang bernama Dam Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji, tersebut, ada suasana yang justru cair.

Pecah tawa sekelompok pria terdengar, berpadu dengan kepulan asap rokok, aroma kopi hitam, dan uap lembap sungai yang mengalir deras di bawahnya.

Anton duduk bersandar di dinding pos pantau. Pria yang telah mengabdikan diri sejak 2014 itu tampak santai, meski matanya tetap awas mengarah ke aliran air.

Tak ada kemewahan di tempat ini. Hanya sebilah celurit, gergaji mesin, rompi berlogo PUPR, serta gemuruh air yang nyaris memekakkan telinga.

Sebagai petugas Penjaga Pintu Air (PPA), Anton tak bekerja sendiri. Bersama Pujang Usiwu dan lima rekan lainnya, mereka bertugas di bawah komando seorang mandor, membagi waktu dalam sistem sif selama 24 jam.

Rutinitas mereka terukur. Setiap pagi dan sore, limpasan dan pembagian air harus dipastikan sesuai ketentuan.

Angkanya dicatat rapi oleh petugas khusus dalam pembukuan kantor.

“Kami harus standby sewaktu-waktu, meski gajinya tidak ikut standby 24 jam,” ujar Anton pria asal Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji itu.

Bendungan induk di Desa Rowotamtu ini bukan sekadar hamparan beton. Ia adalah otak sistem irigasi kawasan selatan Jember.

Dari titik ini, air dibagi ke dua arah. Satu mengalir melalui Sungai Bedadung hingga bermuara di Pantai Puger, sementara lainnya menuju Dam Pembagi Curahmalang, Desa Curahmalang, Rambipuji.

Peran mereka krusial. Menentukan kapan debit air harus dikecilkan saat musim panen, atau dibesarkan ketika musim tanam tiba.

Semua demi menghidupi sekitar 13.245 hektare sawah yang membentang di wilayah Balung, Wuluhan, hingga Bangsalsari.

Namun, masa paling mencekam bagi para penjaga pintu air justru datang saat musim hujan, seperti saat ini.

Ketika sebagian warga kota memilih menarik selimut kala hujan deras mengguyur, Anton dan timnya berdiri tegak di bibir bendungan, mencatat setiap sentimeter kenaikan air.

Ingatan mereka masih segar pada akhir Desember 2025 lalu.

Saat itu, limpasan air mencapai 5,80 meter dan melampaui batas normal. Sehingga, menyebabkan rumah-rumah warga di sekitar sungai terendam.

“Ketinggian pernah sampai 6 meter. Air meluber ke mana-mana, persis seperti banjir bandang Panti tahun 2006 dulu,” kenang Pujang Usiwu dengan raut serius.

Musuh utama mereka bukan hanya derasnya air, melainkan material sampah. Mulai batang kayu, pohon besar, dahan, hingga plastik yang kerap menyumbat pintu air.

Di saat seperti itulah, keberanian para petugas benar-benar diuji.

Tanpa alat berat, mereka harus turun langsung ke arus sungai, berbekal tali tampar.

Sementara rekan lainnya mengoperasikan gergaji mesin untuk memotong kayu-kayu besar, di tengah pusaran air yang bisa menyeret siapa saja jika lengah.

“Risikonya tersedot aliran air itu tinggi sekali. Salah hitung sedikit, ya wasalam,” ujarnya.

Ia pun menyelipkan harapan agar suatu hari bendungan ini dilengkapi alat berat pencapit sampah, seperti di bendungan lain, agar nyawa mereka tak perlu dipertaruhkan setiap hujan turun.

Meski terlihat sederhana, pekerjaan mereka penuh perhitungan.

Saat hujan lebat mengguyur wilayah hulu yang disumbang oleh 13 anak sungai seperti Kali Jompo dan Dinoyo.

Maka, volume air menuju dam pembagi harus dijaga maksimal di angka 25 meter kubik. Jika melebihi itu, maka tanggul plengsengan berisiko terkikis, dan pendangkalan tak terhindarkan.

Itulah sebabnya, meski Sungai Bedadung tampak mengamuk, aliran irigasi ke sawah-sawah petani tetap stabil dan tenang.

Semua berkat tangan-tangan yang sigap memutar roda pintu air, bahkan di tengah gelapnya malam.

Saat matahari mulai condong ke barat, deru air Bedadung masih menjadi satu-satunya musik yang setia menemani mereka.

Bagi Anton dan rekan-rekannya, setiap tetes air yang sampai ke sawah petani adalah bayaran yang nilainya jauh melampaui materi.

Mereka adalah pahlawan sunyi, penjaga nadi kehidupan pertanian Jember, satu putaran pintu air dalam satu waktu.

“Petani suka sambat kekurangan air. Nggak tahu kalau yang di sini harus benar-benar berjibaku supaya air tetap aman dan sampai ke sawah,” terangnya. (mau/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Sungai Bedadung #Jember #pupr #dam #penjaga pintu air