Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Banjir Putuskan Jembatan Gladak Korek, Petani di Andongsari Jember Kembali Andalkan Getek

Jumai RJ • Jumat, 30 Januari 2026 | 07:00 WIB
JALAN TERAKHIR: Petani jagung kembali memanfaatkan getek untuk menyebrang Sungai Kalimayang, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, kemarin (21/7).
JALAN TERAKHIR: Petani jagung kembali memanfaatkan getek untuk menyebrang Sungai Kalimayang, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, kemarin (21/7).

Radar Jember – Hujan deras yang kerap mengguyur wilayah hulu kembali memutus akses warga Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu.

Jembatan penyeberangan Gladak Korek di Kali Mayang kembali runtuh setelah diterjang banjir sepekan lalu.

Hal itu memaksa warga kembali menggunakan getek untuk menyeberang menuju lahan pertanian.

Tingginya intensitas curah hujan belakangan ini membuat Kali Mayang kerap meluap.

Setiap kali hujan deras turun di wilayah hulu seperti Tempurejo, debit air sungai meningkat drastis dan menghantam jembatan sederhana yang menjadi akses utama warga menuju kawasan Perhutani.

Akibatnya, jembatan yang dilengkapi getek di bagian tengah itu kembali hancur.

Warga yang sehari-hari bekerja di lahan pertanian, mencari rumput, hingga mengambil kayu, tak memiliki pilihan lain selain kembali mengandalkan perahu penyeberangan.

Sulaiman, 56, warga setempat yang mengelola getek penyeberangan, mengaku kerusakan jembatan sudah menjadi siklus tahunan saat musim hujan.

Namun, ia bersama warga tak pernah membiarkannya terlalu lama terputus.

“Kalau sudah diterjang banjir, sehari itu juga langsung kami perbaiki. Soalnya di seberang sungai itu banyak lahan Perhutani yang digarap warga,” katanya.

Menurut Sulaiman, jika akses penyeberangan dibiarkan rusak lebih dari dua hari, maka aktivitas warga akan lumpuh.

Terlebih saat ini memasuki musim panen jagung dan masa mencari pakan ternak.

“Kasihan warga kalau sampai tiga hari tidak bisa ke lahan. Kalau rusaknya tidak parah, setengah hari sudah bisa dilewati lagi, minimal sepeda motor bisa naik ke getek,” jelasnya.

Dalam kondisi normal atau saat musim kemarau, jembatan penyeberangan terpasang utuh dengan getek di bagian tengah yang diapit dua sisi jembatan.

Namun saat musim hujan dan arus sungai membesar, jembatan kerap terseret banjir.

Untuk sementara, warga biasanya memasang jembatan darurat sepanjang sekitar 2,5 meter.

Itu hanya sebagai penghubung agar kendaraan roda dua bisa naik ke atas getek.

“Kalau air masih besar, ya mau tidak mau warga naik getek lagi. Jembatan baru bisa dipasang kalau debit air sudah turun,” imbuh Sulaiman. (jum/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #getek #penyeberangan