Radar Jember – Jukung bertuliskan “The Broter” mendadak menjadi perhatian nelayan di Puger dan sekitarnya, kemarin (28/1).
Jukung berjenis speed itu mengalami kerusakan parah setelah dihantam ombak saat berangkat melaut.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Akhir-akhir ini, cuaca ekstrem masih menghantui aktivitas nelayan di wilayah Puger dan sekitarnya.
Selain gelombang tinggi, angin kencang yang dikenal sebagai angin barat masih terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut.
Kalaupun ada yang berangkat, jumlahnya jauh berkurang dibandingkan hari biasa.
KBO Satpolair Polres Jember Aiptu Agus Rianto mengatakan, gelombang laut setinggi 2,6 meter menjadi pukulan berat jukung fiber jenis speed yang dinakhodai Samdiyo, 55, warga Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger.
Jukung tersebut dihantam ombak saat berangkat melaut sekitar pukul 10.00.
Jukung itu membawa satu anak buah kapal (ABK), Sadi, 65, warga Desa Karanganyar, Kecamatan Gumukmas.
Saat memasuki area plawangan, ombak besar datang dari arah tengah laut dan menghantam jukung secara berulang.
Plawangan yang dikenal memiliki arus dan ombak kuat membuat jukung semakin sulit dikendalikan.
Beberapa kali dihantam ombak, air laut masuk ke dalam jukung hingga posisinya miring.
Nakhoda sempat berupaya keluar dari area tersebut, namun ombak terus menerjang hingga jukung menghantam karang.
Akibat kejadian itu, jukung terombang-ambing di sekitar plawangan dan terseret gelombang hingga mendekati area pemecah ombak (breakwater).
Nelayan lain, tambah Agus Rianto, yang berada di sekitar lokasi segera memberikan pertolongan.
“Beruntung, jukung tidak sampai terbalik sehingga nakhoda dan ABK berhasil menyelamatkan diri. Namun, jukung mengalami kerusakan cukup parah dan kerugian sekitar Rp40 juta,” ucapnya.
Agus Rianto, mengatakan pihaknya terus mengimbau nelayan agar mewaspadai cuaca ekstrem.
“Belakangan ini masih terjadi angin barat dengan ombak besar. Kami tidak henti-hentinya mengingatkan nelayan agar lebih berhati-hati,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika kondisi cuaca belum memungkinkan, nelayan sebaiknya menunda melaut.
“Kalaupun tetap berangkat, wajib menggunakan alat keselamatan seperti pelampung,” pungkasnya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh