Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dari Nyo-ngeronyo hingga Cer-cer, RSD Kalisat Ciptakan Kamus Medis Madura demi Atasi Kendala Bahasa Pasien

Sidkin • Kamis, 29 Januari 2026 | 06:00 WIB
MUDAHKAN WARGA: Direktur RSD Kalisat dr Nurullah Hidajahningtyas (kanan) menunjukkan informasi Kamus Medis Madura (Kamera). Sebuah inovasi yang memudahkan komunikasi nakes dengan warga Madura.
MUDAHKAN WARGA: Direktur RSD Kalisat dr Nurullah Hidajahningtyas (kanan) menunjukkan informasi Kamus Medis Madura (Kamera). Sebuah inovasi yang memudahkan komunikasi nakes dengan warga Madura.

Radar Jember - Di ruang periksa, satu kata bisa menentukan tindakan. Di Jember bagian utara, bahasa kerap menjadi sekat tak kasat mata.

Dari kegelisahan itu, lahir sebuah jembatan kecil. Namanya 'Kamera', singkatan dari Kamus Medis Madura.

Sebuah x-banner berwarna hijau berdiri di salah satu sudut Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat.

Sepintas, tampilannya tak jauh berbeda dengan banner rumah sakit pada umumnya.

Namun, jika didekati, isinya justru tak berbicara tentang jadwal dokter, imbauan kesehatan, ataupun layanan unggulan.

Tulisan besar di sana berbunyi: Kamus Medis Madura (Kamera).

Bagi tenaga kesehatan di rumah sakit yang berada di Jember bagian utara tersebut kehadiran x baner Kamera bukan sekadar hiasan.

Ia menjadi jembatan penting dalam komunikasi antara nakes dan pasien.

Sebab, di enam kecamatan di kawasan utara Jember, bahasa Madura adalah bahasa yang paling akrab di telinga warga.

Bahasa itu digunakan sehari-hari, termasuk saat mereka menceritakan keluhan kesehatan.

Direktur RSD Kalisat, dr Nurullah Hidajahningtyas menjelaskan, masalah mulai muncul ketika keluhan tersebut harus diterjemahkan ke dalam bahasa medis.

Rasa nyeri, pusing, hingga sesak napas sering kali sulit dijelaskan secara utuh dalam bahasa Indonesia.

Perbedaan bahasa kerap membuat makna keluhan bergeser, bahkan berisiko menimbulkan salah tafsir. Pengalaman itulah yang berulang kali dirasakan tenaga kesehatan RSD Kalisat.

Padahal, tambah Nurullah, dari sisi fasilitas, rumah sakit daerah ini tergolong lengkap.

Beragam layanan spesialis tersedia, mulai dari penyakit dalam, bedah, anak, hingga kebidanan.

Layanan penunjang seperti jantung, saraf, patologi klinik, dan radiologi pun telah berjalan.

“Keberadaan RSD Kalisat sebenarnya sudah bisa memenuhi kebutuhan dasar pelayanan kesehatan di wilayah cakupan kami,” ujar Direktur RSD Kalisat, dr Nurullah Hidajahningtyas.

Namun, di balik kelengkapan itu, persoalan paling mendasar justru muncul dari hal yang sering dianggap sepele: Bahasa.

Tak semua tenaga kesehatan memiliki latar budaya yang sama dengan mayoritas pasien.

Akibatnya, ada momen ketika keluhan pasien tidak sepenuhnya tertangkap secara presisi.

“Bahasa sering menjadi kendala dalam layanan yang kami berikan,” tambah Nurullah.

Dari situlah rumah sakit melihat adanya celah yang perlu dijembatani. Mereka menyadari, pelayanan kesehatan bukan hanya soal alat medis dan obat-obatan, tetapi juga tentang pemahaman.

Maka lahirlah Kamus Medis Madura, sebuah panduan praktis berisi istilah medis sehari-hari dalam bahasa Madura.

“Ada gap dalam komunikasi, yaitu pemahaman bahasa. Karena itulah tim kami membentuk Kamus Medis Madura,” jelasnya.

Gagasan ini, ungkapnya, berawal dari pengalaman dr Rizki Akbar Fahmi, dokter umum di RSD Kalisat.

Dalam praktik sehari-hari, ia kerap menemui pasien yang lebih nyaman mengungkapkan keluhan menggunakan bahasa Madura.

Dari ide sederhana itu, lahirlah kamus yang dirancang untuk membantu tenaga kesehatan memahami maksud pasien tanpa kehilangan makna.

“Harapannya bisa mengatasi gap komunikasi antara kami sebagai pemberi pelayanan kesehatan dengan masyarakat,” ungkapnya.

Meski demikian, pihak rumah sakit tidak sepenuhnya bergantung pada buku saku tersebut.

Dalam setiap sif, manajemen tetap mengupayakan kehadiran petugas yang mampu berbahasa Madura agar komunikasi terasa lebih alami.

Interaksi langsung dinilai tetap menjadi cara terbaik untuk membangun rasa aman dan kepercayaan pasien.

“Meskipun sudah ada kamus, interaksi langsung tetap lebih baik,” imbuh Nurullah.

Kehadiran Kamera bukan sekadar inovasi administratif.

Ia adalah simbol kepedulian terhadap pengalaman pasien sejak langkah pertama mereka masuk ruang periksa.

Sebab, pelayanan kesehatan yang bermutu, bagi RSD Kalisat, selalu dimulai dari komunikasi yang utuh.

“Yang diharapkan masyarakat adalah pelayanan yang berkualitas dan bermutu. Itu harus bisa terselenggara di RSD Kalisat,” pungkasnya. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #medis #RSD Kalisat #kamus bahasa madura indonesia