Radar Jember - Azan Magrib baru saja menggema di Dusun Sumberan, Desa Ambulu.
Langit perlahan meredup, udara desa mulai dingin, dan sebagian warga bersiap menutup hari dengan istirahat.
Namun bagi Husnan Hanifah Darmayanti, momen itu justru menjadi awal dari perjuangan yang telah ia jalani hampir setiap hari selama dua tahun terakhir.
Dengan langkah ringan dan kerudung merah jambu yang menutup kepalanya, perempuan berusia 26 tahun itu menuju TPQ Nurul Huda.
Di ruangan sederhana itu, sudah menunggu 15 pasang mata kecil dari anak-anak desa yang siap menimba ilmu agama darinya.
Bagi Hanifah, mereka bukan sekadar santri, melainkan amanah yang harus dijaga.
Di antara waktu Magrib hingga Isya, suara Hanifah berpadu dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran.
Bacaan para santri masih terbata-bata, sesekali salah makhraj, kadang harus diulang berkali-kali.
Namun tak ada nada tinggi, tak ada raut lelah, yang ada hanya kesabaran dan ketelatenan seorang guru muda yang mengajar dengan hati.
Aktivitas itu bukanlah rutinitas sesekali. Hampir setiap hari Hanifah hadir, mendampingi sekitar 15 anak dari total 50 santri TPQ Nurul Huda.
Di usianya yang masih belia, ia tak mengejar kemewahan, tak pula sibuk merancang masa depan di balik gemerlap kota.
Ia memilih jalan sunyi: mendidik generasi desa dengan ilmu agama.
“Selama mengajar, saya memang tidak mendapatkan gaji,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember, sambil tersenyum tenang, seolah ketiadaan upah bukan perkara besar.
Bagi Hanifah, kepuasan sejati bukan soal materi.
Ada kebahagiaan yang tak bisa diukur angka ketika melihat anak didiknya mampu membaca Alquran dengan benar, memahami doa-doa harian, dan tumbuh dengan akhlak yang baik.
Di sanalah letak imbalan yang ia rasakan. Sunyi, tapi bermakna.
Namun idealisme tetap membutuhkan pijakan. Kehidupan sehari-hari menuntut kebutuhan yang tak bisa diabaikan.
Untuk itu, Hanifah menjalani peran ganda. Seusai mengajar di TPQ, ia bekerja sif-sifan di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Ambulu.
Pekerjaan itu menjadi cara agar ia tetap bisa bertahan, tanpa harus meninggalkan pengabdiannya sebagai guru ngaji.
“Untuk memenuhi kebutuhan hidup sampingan, saya juga kerja shift-shift-an di salah satu pondok pesantren di sini,” ujarnya lirih.
Sudah sekitar dua tahun rutinitas ini ia jalani. Tak banyak keluhan yang keluar dari bibirnya.
Tak ada sambat, tak ada protes. Hanya tekad sederhana agar anak-anak di desanya memiliki bekal spiritual yang kuat di masa depan menjadi bekal yang mungkin tak langsung terlihat hasilnya, tapi akan terasa kelak.
Dedikasi itu akhirnya mendapat secercah pengakuan. Untuk pertama kalinya selama mengabdi, nama Hanifah tercatat sebagai salah satu penerima program insentif dari pemerintah daerah.
Bantuan itu menjadi angin segar, bukan karena besarnya nominal, melainkan karena maknanya.
“Program ini betul-betul memperhatikan guru ngaji dalam melakukan dakwah dan mendidik anak-anak,” katanya.
Ia menilai proses penyaluran bantuan cukup efisien dan tidak berbelit. Tidak memakan waktu, tidak terlalu lama juga.
Bagi Hanifah, insentif itu adalah simbol kehadiran negara di tengah perjuangan sunyi para guru ngaji di pelosok desa.
Mereka yang menjaga moral bangsa tanpa sorotan, tanpa panggung, dan sering kali tanpa upah.
Di sela-sela padatnya waktu antara mengajar dan bekerja, Hanifah menyimpan doa yang sederhana.
Ia berharap perhatian itu tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan menjadi komitmen jangka panjang.
“Semoga bantuan dan dukungan seperti ini bisa terus berlanjut setiap tahunnya,” harapnya.
Sementara azan Isyak kembali berkumandang, Hanifah menutup pelajaran malam itu.
Anak-anak berpamitan satu per satu, membawa pulang ilmu yang mungkin tampak kecil hari ini, namun kelak akan menjadi cahaya besar dalam hidup mereka.
Dan Hanifah, dengan langkah yang sama sederhananya, kembali pulang untuk melanjutkan perjuangan sunyi yang ia pilih dengan penuh keikhlasan. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh