Radar Jember - Para petani di Jember sempat dibuat resah pada awal tahun ini.
Di tengah musim tanam yang berlangsung hampir serempak dari wilayah utara hingga selatan, pupuk subsidi yang biasa mereka tebus mendadak sulit didapat di sejumlah kios.
Tidak sedikit petani yang harus pulang dengan tangan kosong karena stok terbatas.
Di balik kegelisahan itu, terdapat dinamika alokasi pupuk yang memang mengalami penyesuaian dan hambatan.
Account Executive (AE) Pupuk Indonesia wilayah Jember, Slamet Saputra, menyebut, total alokasi pupuk subsidi untuk Jember pada 2026 tercatat 124.122 ton.
Angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding tahun 2025 yang mencapai sekitar 130 ribu ton lebih.
Meski penurunannya tidak terlalu besar, realisasi penebusan di awal tahun berjalan sangat cepat.
Hingga Januari saja, pupuk yang sudah masuk gudang mencapai 13.549 ton atau sekitar 10,92 persen dari total alokasi tahunan.
Slamet mengakui, pada rentang 10 hingga 20 Januari sempat terjadi kekosongan stok di sejumlah gudang dan kios.
Hal itu disebabkan gangguan operasional dan cuaca ekstrem.
“Sempat ada kekosongan stok karena gangguan operasional di Pusri Palembang dan kendala ombak tinggi sehingga pengiriman pupuk melalui kapal tersendat,” ungkapnya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi B DPRD Jember dan petani, kemarin.
Situasi itu, lanjutnya, bukan berarti pupuk benar-benar habis, melainkan distribusinya yang tidak selancar biasanya.
Untuk menutup kekurangan pasokan, Pupuk Indonesia mendatangkan bantuan 10 ribu ton dari Pupuk Kalimantan Timur dan Petrokimia Gresik.
Rinciannya alokasi 3 ribu ton untuk Jember pada bulan Januari.
Sebagian pupuk itu telah terealisasi dan mengisi kembali gudang-gudang penyangga yang tersebar.
“Sekarang kondisi sudah berangsur normal, pengisian gudang kembali berjalan,” terangnya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Jember, Wahyu Prayudi Nugroho, menilai, penurunan alokasi bukan sesuatu yang perlu disikapi dengan kepanikan.
Menurutnya, mekanisme realokasi dari provinsi tetap terbuka sebagaimana tahun sebelumnya.
“Tahun 2025, Jember mendapatkan realokasi hingga sepuluh kali. Sehingga ada tambahan pupuk subsidi. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Wahyu juga mengingatkan agar petani menebus pupuk sesuai kebutuhan dan pola tanam, bukan karena dorongan kekhawatiran berlebihan.
Ia menekankan distribusi harus tetap mengacu pada aturan, termasuk harga eceran tertinggi (HET) dan tata cara penebusan.
Pemerintah daerah, Pupuk Indonesia, dan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, kata dia, akan terus berkoordinasi agar ketersediaan pupuk tetap terjaga.
“Kami akan memastikan kebutuhan pupuk terpenuhi demi menjaga ketahanan pangan Jember,” pungkasnya. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh