Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dokter IGD RSU Kaliwates Ungkap Helm SNI Mampu Kurangi Trauma Kepala hingga 60 Persen Saat Kecelakaan

Sidkin • Senin, 26 Januari 2026 | 06:10 WIB
“Helm SNI itu bisa menghambat trauma kepala sekitar 40-60 persen. Jadi, kalau korban menggunakan helm SNI, itu benar-benar sangat membantu kami.” dr Fungky Anthony K., Dokter Umum IGD RSU Kaliwates.
“Helm SNI itu bisa menghambat trauma kepala sekitar 40-60 persen. Jadi, kalau korban menggunakan helm SNI, itu benar-benar sangat membantu kami.” dr Fungky Anthony K., Dokter Umum IGD RSU Kaliwates.

Radar Jember - Benturan di kepala saat kecelakaan sering menjadi penentu keselamatan korban.

Di ruang IGD, dokter bisa langsung melihat perbedaan antara pasien yang memakai helm dan yang tidak.

Dari sisi medis, helm terbukti membantu mengurangi risiko cedera berat dan menyelamatkan nyawa seseorang.

Dokter Umum IGD RSU Kaliwates, dr Fungky Anthony Kuswanto, menjelaskan, setiap trauma, baik tajam maupun tumpul, tetap berdampak pada kepala.

Namun, benturan langsung atau direct trauma dinilai jauh lebih berbahaya dibanding benturan tidak langsung (non-direct).

Pada trauma tajam, bisa muncul luka terbuka atau open wound, yakni kondisi ketika kulit hingga tulang tengkorak bahkan jaringan di bawahnya robek.

Direct trauma ke kepala bila itu akan lebih berbahaya dan lebih gawat dibandingkan korban non-direct ke kepala,” ujarnya.

Funky menerangkan, open wound di kepala bukan sekadar luka biasa.

Jika robekan menembus tulang tengkorak, jaringan di bawahnya dapat terekspos ke udara luar sehingga meningkatkan risiko infeksi dan perdarahan hebat.

Dalam kondisi itu, tenaga medis harus menghentikan perdarahan sekaligus mengendalikan infeksi yang bisa mengancam nyawa.

Open wound itu akan memperberat proses pengobatannya, lebih ekstra untuk tindakannya,” jelasnya.

Sementara pada trauma tumpul atau benturan tidak langsung, luka terbuka memang tidak selalu terlihat.

Meski begitu, risiko tetap ada karena dapat terjadi perdarahan di bawah tengkorak tanpa gejala luar yang mencolok.

Kondisi ini sering disebut perdarahan intrakranial, yakni perdarahan di dalam rongga kepala yang bisa menekan otak.

Ketika terjadi perdarahan itu, nakes akan fokus pada tindakan penyelesaian perdarahan saja.

Menurutnya, penggunaan helm standar SNI sangat membantu kerja medis dalam menekan risiko cedera berat.

Helm dengan bantalan dan sistem pengunci yang terstandar mampu menyerap sebagian energi benturan saat kecelakaan.

Dari pengalamannya, helm dapat menghambat dampak trauma hingga 60 persen.

“Selama ini yang kami tangani, helm SNI itu bisa menghambat trauma kepala sekitar 40 hingga 60 persen. Jadi, kalau korban menggunakan helm SNI, itu benar-benar sangat membantu kami,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan, mayoritas pasien kecelakaan yang datang ke IGD justru tidak mengenakan helm, terutama dengan alasan jarak dekat atau sekadar keluar gang.

Padahal, dalam kasus cedera kepala dikenal istilah golden hour, yakni rentang waktu emas sekitar 1,5 hingga 3 jam untuk penanganan trauma tumpul.

Bahkan lebih cepat pada luka terbuka dengan perdarahan hebat. Keterlambatan membawa korban ke fasilitas kesehatan dapat memperburuk kondisi dan menurunkan peluang keselamatan.

“Kalau open wound direct impact itu kami butuh waktu lebih cepat dari itu. Karena biasanya perdarahan hebat,” pungkasnya. (kin/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #kesadaran lalu lintas #RSU Kaliwates #helm SNI #benturan kepala