Radar Jember – Angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh perjalanan Siklon Tropis Luana.
Fenomena ini bermula dari pusat tekanan rendah di Samudera Hindia selatan NTB pada Rabu lalu (21/1).
Dalam perjalanannya, hal itu berkembang menjadi bibit siklon hingga menjadi siklon tropis dan berdampak pada peningkatan kecepatan angin di berbagai daerah.
Berdasarkan rilis BMKG Juanda Surabaya, pada Rabu (21/1) pusat tekanan rendah memberi dampak tidak langsung berupa hujan ekstrem di Situbondo dan Probolinggo bagian timur.
Sehari kemudian, tekanan udara semakin turun dan berubah menjadi Bibit Siklon Tropis 91S.
Dampaknya, kecepatan angin di hampir seluruh Jawa Timur meningkat, bahkan di Tuban tercatat mencapai 48,2 kilometer per jam.
“Pusat tekanan rendah tersebut semakin menurun tekanannya menjadi Bibit Siklon Tropis 91S,” tulis BMKG Juanda.
Pada Jumat (23/1), potensi 91S semakin kuat menjadi siklon tropis meski bergerak menjauhi Indonesia ke arah tenggara. Namun pengaruhnya masih terasa di Jawa Timur.
Di Kalianget, Sumenep, kecepatan angin tercatat mencapai 50,4 kilometer per jam. Potensi 91S itu makin kuat untuk menjadi Siklon Tropis.
Puncaknya pada Sabtu (24/1), 91S resmi menjadi Siklon Tropis Luana.
Angin di Jawa Timur kembali menguat, dan Jember tercatat sebagai wilayah dengan kecepatan tertinggi.
Data periode 24 Januari pukul 07.00 WIB hingga 25 Januari pukul 07.00 WIB menunjukkan kecepatan angin di AWS Tanggul Jember mencapai 57,2 kilometer per jam.
“Tercatat peningkatan kecepatan angin di beberapa wilayah, tertinggi di Tanggul Jember 57,2 km/jam,” ungkap BMKG Juanda.
Siklon Tropis Luana kemudian dinyatakan punah kemarin setelah bergerak melintasi Benua Australia.
Meski begitu, dampak angin kencang masih dirasakan di sejumlah daerah.
Selain Jember, kecepatan angin tinggi juga tercatat di Kediri dan Ponorogo sebesar 49,7 kilometer per jam serta Lumajang 45,4 kilometer per jam.
“Bureau of Meteorology Australia menyatakan Siklon Tropis Luana telah punah,” tulis BMKG. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh