SUMBEREJO, Radar Jember – Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Jember bagian Selatan, pada pekan kemarin memicu dampak luas.
Selain merendam permukiman dan lahan pertanian, banjir musiman juga merusak infrastruktur jalan penghubung antar-desa.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/1) kerusakan terparah terlihat pada akses jalan aspal yang menghubungkan Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, dengan Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan.
Luapan air yang merendam wilayah tersebut membuat lapisan aspal mengelupas dan hanyut terbawa arus, hingga hanya menyisakan tatanan batu dasar.
Kerusakan jalan ini menjadi pukulan berat bagi warga. Pasalnya, jalur yang membelah kawasan persawahan tersebut merupakan akses alternatif utama bagi warga Sumberejo yang hendak menuju Kecamatan Puger, maupun sebaliknya.
"Ada beberapa titik jalan aspal yang hancur total akibat banjir. Kalau tidak segera diperbaiki, kerusakannya akan semakin parah," ungkap Sugiyono, warga Desa Sumberejo.
Menurutnya, jalan tersebut memiliki peran vital bagi mobilitas harian warga. Selain jalur ekonomi bagi petani untuk mengangkut hasil panen, jalan itu juga menjadi rute utama siswa yang berangkat sekolah.
Mengingat puncak musim hujan diperkirakan masih berlangsung sepanjang Januari hingga Februari, warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan darurat.
Jika dibiarkan tanpa perbaikan, maka genangan air pada hujan berikutnya dikhawatirkan akan memutus total akses transportasi antar kecamatan tersebut.
Diketahui, banjir tersebut merendam ratusan rumah yang terjadi mulai Selasa (13/1) sore hingga Rabu (14/1) dan tinggi air hingga se pinggang orang dewasa.
Setidaknya ada sekitar 300 KK yang terdampak banjir di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.
Sedangkan, di Desa Ampel dan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan banyak lahan pertanian terendam.
Sementara, Ahmad Makruf warga Wuluhan berharap banyak pemerintah desa ataupun Pemkab Jember bisa mengeluarkan dana darurat bencana untuk perbaikan jalan rusak tersebut. Walau jalan itu sekelas jalan desa, tapi cukup penting warga.
“Kalau jalan rusak begitu, makin susah dan mahal biaya angkut hasil pertanian,” terangnya. (jum/dwi)
Editor : M. Ainul Budi