Radar Jember - Pendidikan di pelosok daerah tidak hanya dibangun dengan semen dan bata.
Tetapi dengan keringat, air mata, dan cinta tulus dari seorang guru yang menolak untuk menyerah pada keadaan.
Inilah gambaran guru yang mengajar di dalam hutan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) seperti Prillyati.
Matahari belum sepenuhnya meninggi, namun embun di kawasan Jenggawah masih terasa dingin menusuk kulit.
Bagi Pillyati Cahyana, 43, waktu adalah lawan sekaligus kawan.
Setiap pagi, ia harus bersiap menghadapi "medan tempur" sejauh puluhan kilometer.
Tujuannya satu. Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, sebuah wilayah pesisir yang terisolasi oleh lebatnya hutan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).
Dua hingga tiga jam perjalanan dihabiskan di atas jok motor.
Bagi warga kota, durasi itu mungkin dianggap perjalanan antarkota yang melelahkan.
Namun bagi Pilly, itu adalah jembatan suci menuju impian anak-anak di beranda negeri.
“Dulu, sebelum aspal menyentuh jalan ini, medan jalanya adalah batu, tanah dan lumpur,” kenang perempuan yang akrab disapa Ibu Pilly ini saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.
Ingatannya melayang pada masa-masa sulit yang terukir di jalur rimba itu.
Saat hujan turun, jalanan berubah menjadi bubur lumpur yang tak bisa dikompromi.
Pilly pernah dipaksa menyerah oleh keadaan ketika motornya macet total di tengah hutan saat hari mulai gelap.
“Saya pernah terjebak sampai Magrib di tengah hutan rimba. Suami saya sampai menyusul ke Pos TNMB karena cemasnya bukan main,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, apa yang membuat perempuan di usia kepala empat ini tetap bertahan menantang maut dan lelah?
Jawabannya sederhana, namun berakar kuat di dalam batinnya. Nawaitu. Niat karena Allah.
“Kalau bukan kita yang asli sini yang berjuang, siapa lagi? Apa harus menunggu guru PNS? Mau digaji berapa mereka untuk datang ke sini?” ujarnya dengan nada bicara lantang khas emak-emak yang penuh semangat.
Keteguhan hati Pilly tak hanya soal jarak tempuh. Di tengah kesibukannya mengajar, ia baru saja menuntaskan pendidikan S-1 di Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember pada Februari 2025 lalu.
Perjuangannya luar biasa, ia harus membagi waktu antara mendidik di pelosok dan kuliah di kota tiga kali seminggu.
Sebuah maraton fisik dan mental yang dilakukan demi legalitas dan kualitas ilmu yang ia berikan.
Kini, meski aspal telah mulai mulus, tantangan di Bandealit berganti rupa.
Di sana, sinyal telekomunikasi adalah kemewahan yang mahal.
Sebab, urusan administrasi sekolah sering kali menjadi drama tersendiri.
Oleh karena itu, Pilly harus keluar hutan menuju Desa Curahnongko hanya untuk mencari sinyal di ponselnya.
Bolak-balik hingga larut malam sudah menjadi santapan harian.
Setiap hari, 24 pasang mata mungil di TK Tunas Harapan telah menantinya.
Bagi Pilly, tawa anak-anak pesisir di kawasan hutan tanam nasional adalah bahan bakar yang tak pernah habis.
Ia ingin, anak-anak pekerja kebun seperti suaminya yang bekerja di PT Bandealit bisa bermimpi setinggi langit.
Pilly memang bukan dari kalangan mapan. Ia adalah guru sertifikasi yang baru dirasakannya empat tahun terakhir.
Namun, kekayaan aslinya ada pada dedikasi yang tak terukur dengan rupiah.
“Saya hanya berharap, ke depan anak-anak Bandealit lebih diperhatikan. Semoga pemerintah terus melirik ke sini,” pungkas ibu dua anak ini. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh