Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tanpa Alat Berat, Imam Memecah Batu Jumbo Penutup Jalan Sukoreno–Gumuksari Jember secara Manual Seorang Diri

Jumai RJ • Rabu, 21 Januari 2026 | 06:00 WIB
TUTUPI JALAN: Batu yang menutup jalan penghubung desa di Kecamatan Kalisat, akhirnya dievakuasi dengan memecah secara manual, kemarin (20/1).
TUTUPI JALAN: Batu yang menutup jalan penghubung desa di Kecamatan Kalisat, akhirnya dievakuasi dengan memecah secara manual, kemarin (20/1).

Radar Jember - Batu seukuran mobil yang berada di tengah jalan penghubung Desa Sukoreno dengan Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, akhirnya teratasi.

Bukan mengandalkan alat berat dari instansi terkait. Melainkan, Pemdes setempat mendatangkan spesialis pemecah batu yang bekerja sendirian.

Pagi kemarin, (20/1) keriuhan tak biasa mewarnai jalan penghubung Desa Sukoreno dengan Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat.

Deru mesin sepeda motor para pedagang pasar, petani, hingga anak-anak sekolah yang hendak berangkat belajar harus terhenti sejenak.

Mereka harus bergantian melintas, mengantre di depan sebuah "raksasa" yang membujur kaku di tengah aspal.

Raksasa itu adalah sebongkah batu besar berukuran 3 x 4 meter.

Sejak longsor menerjang pada Jumat (16/1) sore lalu, batu ini menjadi penguasa jalanan yang memaksa kendaraan roda empat berbalik arah.

Namun, pagi kemarin, ada pemandangan berbeda.

Warga berkumpul bukan untuk mengeluh, melainkan menyaksikan upaya penaklukan batu tersebut.

Di tengah suara genset dan bor, seorang pria bernama Imam tampak tenang. Tak ada alat berat atau truk derek di samping Imam.

Pria asal Banyuwangi itu hanya bersenjatakan bor listrik, palu besar, dan beberapa batang besi baja.

Dengan telaten, Imam mengebor lubang demi lubang pada permukaan batu yang keras itu.

Setelah lubang dirasa cukup dalam, ia membenamkan pasak besi, lalu menghantamnya dengan palu sekuat tenaga. Perlahan namun pasti, batu raksasa itu mulai retak dan terbelah.

Kapolsek Kalisat, Iptu Ika Mufid Dati, menceritakan bahwa evakuasi batu ini sempat menemui jalan buntu selama empat hari.

Ukuran batu yang terlampau besar membuat pembersihan manual biasa mustahil dilakukan.

"Kami awalnya sudah berkoordinasi dengan Dinas PU Bina Marga. Namun, diputuskan bahwa menggunakan alat berat justru berisiko tinggi. Getarannya dikhawatirkan memicu longsor susulan dari gumuk di atas jalan," ujar mantan KBO Satlantas Polres Jember itu.

Solusi unik akhirnya muncul setelah Pemdes Sukoreno menjalin komunikasi dengan Pemdes Curahkalong.

Informasi pun didapat. Ada seorang ahli pecah batu asal Genteng, Banyuwangi, yang memiliki keterampilan membelah batu besar secara manual. Imam-lah orangnya.

Hingga berita ini ditulis, proses pemecahan batu masih berlangsung. Petugas kepolisian terus berjaga di lokasi untuk mengatur sistem buka-tutup jalan.

"Esensinya adalah keamanan. Meski lebih lama, memecah batu secara manual, tapi jauh lebih aman bagi struktur tanah di sini," pungkas Ika Mufid.

Hairullah, 40, warga Dusun Krajan 2, Desa Sukoreno, mengatakan, akibat jalan penghubung dua desa tertutup batu, kendaraan yang bisa lewat hanya pengendara sepeda motor saja.

“Mobil harus berputar jauh," katanya.

Hindari Longsoran

Sementara itu, Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, pihaknya menerima laporan longsoran batu tak lama setelah kejadian, Jumat sore (16/1).

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD langsung diterjunkan ke lokasi dan tiba menjelang petang.

Melihat ukuran batu yang cukup besar dan berpotensi membahayakan, petugas segera memasang garis pembatas agar pengguna jalan lebih berhati-hati.

“Kami langsung menuju lokasi dan memasang police line karena batu yang longsor ukurannya besar,” ujarnya.

Edy menjelaskan, proses evakuasi sempat terkendala karena ukuran batu yang tidak memungkinkan dipindahkan secara langsung.

BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum terkait peminjaman alat pemecah batu jenis jack hammer.

Namun setelah dilakukan asesmen di lapangan, penggunaan alat itu dinilai berisiko memicu longsoran susulan dari batu lain di sekitarnya.

Karena pertimbangan keselamatan, evakuasi akhirnya diputuskan dilakukan secara manual.

Ia menambahkan, evakuasi manual dilakukan secara swadaya dengan melibatkan warga setempat setelah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan.

Hingga, kini BPBD masih terus melakukan pemantauan di lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan retakan atau longsoran susulan.

Asesmen lanjutan akan dilakukan jika kondisi di lapangan dinilai membahayakan. 

"Kami lakukan monitoring ke lokasi. Lalu untuk penyelesaian evakuasi batu sudah disepakati diselesaikan oleh pihak desa dengan camat Kalisat," pungkasnya. (jum/kin/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #pemecah batu #tutup jalan #batu raksasa runtuh