Radar Jember - Di balik rindangnya kebun durian Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, menikmati durian tak lagi sekadar soal rasa.
Namun juga tentang suasana, penantian, dan sensasi menunggu buah matang yang baru jatuh dari pohonnya.
Pagi itu di kebun durian Desa Sabrang udara sejuk menyertai, ruas tanahnya yang masih lembap, dedaunan basah sisa embun, dan deretan pohon durian menjulang rapat menutup cahaya matahari.
Sesekali angin menggerakkan ranting, membuat suasana terasa hidup meski tanpa hiruk pikuk manusia seperti di kota.
Di lahan seluas sekitar empat hektare itulah sensasi menikmati durian terasa berbeda.
Tak ada lapak buah atau tumpukan karung.
Pengunjung wisata musiman, justru diajak berjalan pelan menyusuri kebun, menengadah ke atas, dan menunggu satu momen yang ditunggu-tunggu, yaitu durian jatuh dari pohonnya.
Saat bunyi jatuh terdengar, perhatian langsung tertuju ke satu titik.
Buah yang jatuh alami dipercaya telah matang sempurna.
Ada rasa penasaran, sekaligus gembira, seolah kebun menghadiahkan kejutan kecil bagi siapa pun yang sabar menunggu.
Aroma durian matang perlahan menguar, bercampur dengan wangi tanah dan daun kering.
Duduk di bawah pohon sambil menanti durian berikutnya menjadi kenikmatan tersendiri.
Suasana pedesaan yang masih asri membuat waktu berjalan lebih lambat.
Pengalaman berburu durian jatuh ini bukan sekadar soal rasa. Ada proses, ada penantian, dan ada kebersamaan.
Menikmati durian langsung di kebun memberi sensasi yang lebih nikmat memang, jauh dari kesan serba instan.
Pengelola kebun durian Desa Sabrang, Arif Arianto menjelaskan konsep ini sengaja dipertahankan.
Durian yang jatuh sendiri menandakan kematangan alami.
“Kalau sudah runtuh, itu tandanya durian siap dimakan dan rasanya maksimal,” ujarnya.
Dalam satu hari, jumlah durian yang jatuh tidak bisa dipastikan.
Rata-rata sekitar 20 hingga 30 buah, bergantung tingkat kematangan durian.
Ketidakpastian itu justru menjadi daya tarik, membuat pengunjung betah berlama-lama di kebun.
Kebun ini ditanami sekitar 120 pohon durian dengan beragam varietas unggulan.
Montong, musang king, masmuar, hingga duri hitam tumbuh berdampingan.
Setiap jenis menawarkan karakter rasa yang berbeda, memberi pilihan bagi pecinta durian sejati.
Soal harga, pengelola mematok sesuai jenis dan bobot buah. Montong dibanderol sekitar Rp 60 ribu per kilogram, masmuar Rp 100 ribu per kilogram, dan musang king mencapai Rp 200 ribu per kilogram.
Namun bagi banyak pengunjung, suasana kebun dan sensasi menunggu durian runtuh membuat pengalaman ini terasa lebih berharga daripada sekadar menikmati buahnya. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh