Radar Jember - Di tangan Yohanes Setyo Hadi, sejarah adalah cinta yang harus dirawat dengan riang gembira.
Melalui Museum Boemi Puger Persada, budaya literasi aktif bergerak dari wilayah Jember Selatan yang berdiri atas kekuatan swadaya.
Di sebuah rumah yang merangkap markas di RT/RW 005/006, Dusun Krajan, Desa Kencong, Jember, Mas Yopie-sapaan akrab Yohanes Setyo Hadi-banyak menghabiskan waktu melakukan kontemplasi dan berdiskusi bareng empat sahabat karibnya: Eko, Nining, Sandi, dan Pak Sus.
Mereka berjibaku melawan lupa. Merampai puing-puing sejarah yang jarang di sudut-sudut rak perpustakaan daerah.
Impiannya sederhana, demi sejarah tidak lenyap dan tetap dapat diwariskan kepada anak cucu, kelak.
Perjalanan ini dimulai tahun 2013, jauh sebelum istilah fomo populer.
Awalnya, gerakan ini hanya sebatas Taman Baca Masyarakat (TBM) Salam.
Namun, karena haus akan jati diri wilayah Jember dan sekitarnya-yang oleh orang Belanda disebut Java Oosthoek alias Pojok Timur Jawa-wadah ini bermetamorfosis menjadi Yayasan Bumi Puger Persada pada 2021.
"Kita butuh legalitas agar bisa bergerak lebih lincah, seperti pemain bola yang punya lisensi resmi, supaya manfaatnya sampai ke Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan, Perpusda, dan lebih meluas," kata Yopie, Minggu (11/1).
Namun, mengelola museum swadaya bukan tanpa drama, dinamika, dan tantangan.
Mas Yopie sempat mencicipi pengalaman pahit: dituduh sebagai pedagang atau bakulan penjual artefak.
Sebuah tuduhan yang mungkin lebih menyakitkan daripada sekedar melihat mantan tunangan.
"Itulah gunanya legalitas Kemenkumham dan sertifikasi. Kami ini bukan mau jualan masa lalu, tapi mau menyelamatkannya agar tidak hilang ditelan zaman," seloroh lulusan Sejarah Universitas Indonesia itu.
Bagi dia, tuduhan itu hanyalah bumbu penyedap dalam misi suci literasi.
Di era di mana informasi bisa didapat secepat kilat lewat Android, Yopie mengaku seperti melihat dua sisi mata uang.
Di satu sisi, ia bersyukur banyak arsip nasional hingga internasional bisa diakses secara open source.
Namun di sisi lain, ia miris melihat pemelintiran hingga hoiax sejarah bertebaran di internet lebih cepat daripada sekedar gosip tetangga.
Ia meyakini, ikhtiar kecil menghadirkan museum dan perpustakaan fisik itu adalah menghimpun sejarah yang banyak tercecer, di tengah-tengah gempuran informasi abal-abal selama ini.
Koleksi di lokasi itu pun tak main-main. Ada naskah kuno (manuskrip) tulisan tangan beraksara Pegon dari abad ke-18 hingga 19 yang menceritakan syiar Islam di Jember Selatan.
Yopie mengemukakan, naskah-naskah ini adalah titipan dari keluarga ulama yang percaya bahwa di tangan Yopie dkk, kertas-kertas tua itu tidak akan hancur dimakan rayap digital.
Hebatnya lagi, koleksi ini sudah "go digital" berkat kolaborasi dengan UIN, BRIN, hingga Perpustakaan Provinsi, yang sempat bertandang ke kediamannya dan mengidentifikasi manuskrip-manuskrip koleksinya.
Tahun 2026 ini, Yopie punya visi besar: Internalisasi. Ia tidak ingin jadi "pemain tunggal".
Kaderisasi relawan sedang digalakkan agar terjadi transfer pengetahuan kepada generasi muda.
Soal pendanaan, ia masih setia di jalur swadaya. Support dari sejumlah pihak sempat mengalir.
Di antaranya, ada donatur baik hati yang membantu urusan notaris, serta hibah buku dari Perpustakaan Nasional yang mendarat manis pada 2025 lalu.
Meski hari ini masih sibuk mengurus naskah kuno dan menempuh beasiswa S-1 Bimbingan Konseling Islam di Universitas Al Falah Assuniyyah (UAS) Kencong, Yopie tetaplah manusia biasa yang punya selera humor tipis.
Saat ditanya soal status, ia menjawab dengan mantap.
"Anak dua, istri masih satu," akunya, menunjukkan bahwa meski ia sangat ahli dalam urusan masa lalu dan sejarah, ia tetap orang yang setia pada masa depan (pasangannya).
Bagi Yopie, belajar adalah proses seumur hidup (long life learning).
Museum Boemi Poeger bukan sekadar tumpukan benda mati, tapi ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mengenal diri sendiri melalui jejak leluhur di tanah Java Oosthoek.
"Ini yang membuat kami masih eksis dan bertahan: motivasi semangat untuk belajar seumur hidup, live long learning, live long education. Semua ini kita lakukan untuk pembelajaran seumur hidup kita dalam pengembangan literasi, karena ini penting bagi diri kita, bagi masyarakat, dan juga bangsa dan negara," imbuhnya. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh