Radar Jember - Kesiapsiagaan bencana menuntut lebih dari sekadar reaksi cepat saat krisis datang.
Dibutuhkan manajemen yang terlatih, alur komando yang jelas, serta kesiapan sumber daya sejak jauh hari.
Oleh karena itu, PMI Jember bersama Palang Merah Jepang memperkuat kapasitas tanggap darurat melalui pelatihan manajemen dan operasional posko.
Penguatan kapasitas ini dilakukan melalui pelatihan Manajemen Tanggap Darurat (MTD) dan pengelolaan Posko, akhir pekan kemarin.
Ini melibatkan pengurus, pegawai, relawan PMI, hingga kelompok Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT).
Pelatihan menjadi bagian dari program School and Community Resilience (SCR) yang menekankan ketangguhan di level sekolah dan desa.
Kolaborasi lintas unsur ini diharapkan menyatukan pola kerja saat bencana terjadi.
Perwakilan Japanese Red Cross Society (JRCS) Pusat, Nodoka, hadir langsung bersama Delegasi JRCS untuk Indonesia, Teuku Awaludin.
Nodoka mengaku senang kembali ke Jember untuk berbagi pengalaman, terutama terkait manajemen tanggap darurat yang menjadi kunci penanganan bencana.
Ia menekankan pentingnya kesinambungan pelatihan agar sistem berjalan, bukan bergantung pada individu.
“Saya sangat senang bisa kembali ke Jember untuk pelatihan manajemen tanggap darurat dan Posko. Di akhir pelatihan akan ada simulasi agar semua memahami tahapan-tahapannya,” ujarnya.
Sementara itu, Teuku Awaludin menjelaskan, program SCR bertujuan memperkuat layanan PMI hingga tingkat desa dan sekolah.
Penyegaran pengetahuan dinilai penting agar kesiapsiagaan tidak hilang seiring pergantian personel.
Ia mencontohkan pengalaman bencana besar yang menunjukkan pentingnya regenerasi kapasitas.
“Tsunami Aceh sudah berlalu 22 tahun, tapi kalau pengetahuan tidak di-refresh, saat orangnya berganti, kesiapannya bisa hilang,” tegasnya.
Awaludin menambahkan, logistik dan aktivasi posko menjadi kunci untuk mencapai target respons cepat enam jam sampai lokasi bencana.
Menurutnya, kesiapan ini hanya bisa dicapai melalui latihan yang konsisten dan terstruktur.
Ia mencontohkan PMI Sukabumi yang mampu merespons banjir bandang secara efektif berkat pondasi manajemen darurat yang kuat.
“Masyarakat harus tangguh, sekolah harus tangguh, dan PMI-nya juga harus tangguh. Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi membiasakan aktivasi manajemen Posko,” katanya.
Wakil Ketua PMI Jember, Aep Ganda Permana, menyambut baik dukungan penuh dari Palang Merah Jepang.
Ia berharap pelatihan ini mampu membangun budaya siaga bencana di Jember yang memiliki potensi risiko beragam.
Mulai dari banjir hingga ancaman megathrust yang harus dihadapi dengan kesiapan bersama.
“Kami berharap seluruh komponen memiliki kesepahaman yang sama saat bergerak di masa darurat,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh