Angka Kunjungan Perpustakaan Meningkat, Tapi Minat Baca Jember Masih Kategori Sedang
Sidkin• Senin, 12 Januari 2026 | 06:05 WIB
EDUKASI: Susana keseruan membaca bersama keluarga di Perpustakaan Jember.
Radar Jember - Perpustakaan tak pernah sepi buku, tapi tak selalu ramai pembaca. Minat baca katanya ada, hanya saja literasi masih tak beranjak dari angka semata.
Perpustakaan pun diuji: sekadar ramai pengunjung, atau sungguh melahirkan pembaca yang paham makna.
Kunjungan masyarakat ke perpustakaan umum milik Pemkab Jember tercatat meningkat sepanjang tahun lalu.
Angka kunjungan disebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun peningkatan itu belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar literasi dan kegemaran membaca.
Perpustakaan masih menghadapi tantangan besar untuk mengubah kebiasaan, bukan sekadar menarik orang datang.
Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Jember, Fatchur Rochman, mengungkapkan, capaian literasi Jember saat ini masih berada di level menengah.
Berdasarkan data 2024, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Jember berada di angka 67,9 persen.
Sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) masih di angka 55,45 persen.
"Literasi masyarakat Jember masuk kategori sedang. Dan ini perlu menjadi perhatian serius,” ungkapnya.
Untuk mendorong peningkatan itu, Dispusip Jember memilih strategi jemput bola.
Sosialisasi dilakukan secara masif, tidak hanya di kota tetapi juga hingga pelosok desa.
Setiap bulan, rata-rata sepuluh sekolah tingkat SD dan SMP dikunjungi.
Sehingga lebih dari seratus sekolah telah dijangkau dalam setahun.
“Alhamdulillah mulai dikenal, kami masif sosialisasi ke masyarakat, baik melalui kunjungan ke perpustakaan maupun ke sekolah,” kata Fatchur.
Sebagian besar sekolah justru mengajukan permohonan langsung agar layanan perpustakaan keliling hadir di lingkungan mereka.
Layanan ini dinilai efektif karena langsung menyentuh anak-anak sebagai pembaca awal.
Dampaknya, jumlah pengunjung perpustakaan daerah ikut meningkat.
“Mayoritas mereka bersurat meminta layanan perpustakaan keliling, dan itu berdampak pada bertambahnya jumlah pengunjung,” ujarnya.
Saat ini, rata-rata seratus orang datang ke Perpustakaan Daerah Jember setiap hari.
Mayoritas membaca dan meminjam buku kesusastraan seperti novel dan cerita fiksi.
Menurut Fatchur, masyarakat sebenarnya sudah membaca, tetapi perlu diarahkan agar bacaan yang dikonsumsi lebih bernilai.
“Minat baca menurut saya masih di bawah rata-rata. Masyarakat sekarang sudah terpapar teknologi, tapi perlu diketahui bahwa nuansa membaca buku cetak itu tentu berbeda,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang belajar seumur hidup.
Konsep lifelong education terus diperjuangkan agar masyarakat memahami nilai pendidikan dan kehidupan dari literasi.
"Ini yang tengah kami perjuangkan. Makanya kami membuka layanan gratis, termasuk perpustakaan keliling yang bisa diakses siapa saja. Tidak hanya sekolah, tetapi juga masyarakat atau lembaga. Selama masyarakat masih bisa belajar dan mengambil nilai pendidikan, itu yang terus kami kejar,” pungkasnya. (kin/nur)