Radar Jember – Ruas jalan yang menghubungkan Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan dengan Dusun Sulakdoro, Desa Wonosari, Kecamatan Puger ambrol dan putus dan tak bisa dilalui hingga kemarin.
Ini akibat banjir yang terjadi Senin (15/12) lalu.
Ambrolnya jalan dusun itu akibat hantaman banjir di sungai Bedadung beberapa kali.
Selain jalan, banjir juga mengakibatkan puluhan pancang beton yang dipasang pada tahun 2005-an ikut ambrol.
Jalan yang menghubungkan Desa Lojejer dengan Desa Wonosari itu memiliki lebar sekitar 5 meter.
Kini, jalan itu akhirnya putus dan hanya tersisa setengah meter. Itu pun hanya bagian pinggirnya saja.
Untuk bahu jalannya sudah putus bersamaan ambrolnya pancang beton tersebut.
Guna menjaga keamanan dan agar warga tidak melewati jalan yang sudah putus itu, Pemerintah desa setempat memasang banner sebagai tanda bahaya.
Kepala Desa Lojejer Mohamad Sholeh menyampaikan, Pemdes sudah mengirim surat ke Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Provinsi yang ditujukan kepada Kepala UPT PSDA WS Bondoyudo Baru di Lumajang terkait insiden ini.
Harapannya ada perbaikan karena sungai di bawah kewenangan provinsi.
“Jadi bukan kabupaten, makanya kami sudah kirim surat Kepala UPT PSDA WS Bondoyudo ” katanya.
Menurut Sholeh, jalan itu memang sempat ambrol beberapa tahun lalu.
Penyebabnya sama, akibat tergerus arus sungai Bedadung saat banjir.
Bahkan saat itu, tebing sungai sudah dipasang tiang pancang yang jumlahnya puluhan untuk mencegah abrasi.
“Karena terus-menerus dihantam banjir, tiang pancang ikut ambrol sebanyak 21 pancang ikut ambrol” katanya.
Akibat putusnya jalan, warga dan siswa yang berangkat ke sekolah terganggu.
Selain itu akses petani dan pedagang yang hendak berjualan dan pergi ke sawahnya terganggu.
Warga pun harus memutar lewat jalan lain dan itu lebih jauh.
Sholeh berharap dengan mengirimkan surat permohonan itu agar dilakukan penguatan tebing sungai Bedadung, sebagai penahan jalan agar tidak putus.
“Pasca putusnya jalan dusun akibat banjir itu warga lewat jalan yang harus memutar. Semoga saja permohonan pengajuan untuk peningkatan penguatan pinggir sungai Bedadung bisa terlaksana," jelasnya.
Sementara itu, Hari, 40, warga yang tinggal tidak jauh dari jalan yang ambrol, menyebut jalan itu pernah ditutup dengan batu namun rusak lagi.
“Sekarang sudah tidak bisa dilewati lagi karena sudah putus. Sisa jalan hanya bagian tepinya saja karena jalannya sudah putus akibat banjir besar, Senin (15/13) lalu," kata Hari.
Hantaman banjir sungai membuat sekitar 21 pancang beton ikut ambrol.
“Ambrolnya yang sekarang lebih parah sehingga jalan tidak bisa dilewati lagi, hanya yang jalan kaki saja bisa lewat. Kalau tidak segera diperbaiki, pancang di bagian utara bisa juga ambrol. Kami harap cepat ada perbaikan,” jelasnya. (jum/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh