Radar Jember - Canting di tangan Furaihani Imtiyaz Prastzuba itu tak sekadar menggambar motif.
Tetapi merangkum identitas daerah, mulai dari tembakau, kopi, Papuma, hingga elang Jawa tertuang dalam selembar kertas batik.
Goresan canting itu tak sekadar membentuk motif.
Di tangan Furaihani Imtiyaz Prastzuba, batik menjelma ruang cerita tentang Jember.
Daun tembakau, kopi, bebatuan Pantai Papuma, hingga siluet burung elang jawa ia rangkai dalam satu kertas.
Ikon-ikon daerah itu diekspresikan lewat warna dan garis yang matang, meski usianya masih belia.
Siswi yang akrab disapa Hani itu masih duduk di bangku kelas XI SMKN 4 Jember.
Namun, kepekaannya membaca lingkungan dan budaya lokal tergolong kuat.
Setiap motif batik yang ia lukis tak dibuat asal indah, melainkan sarat makna tentang identitas daerah yang ia cintai sejak kecil.
Tembakau dan kopi menjadi unsur dominan dalam karyanya, dua komoditas itu bukan sekadar ornamen.
Daun tembakau digambar lentur, sementara biji kopi disusun ritmis, mencerminkan kerja keras para petani yang selama ini menjadi tulang punggung daerah.
Tak hanya itu, Hani juga memasukkan elemen alam pesisir selatan.
Batu-batu Pantai Papuma hadir sebagai tekstur visual yang tegas, memberi kesan kokoh dan berkarakter.
Sementara burung elang Jawa, satwa langka yang ia angkat, menjadi simbol kekuatan sekaligus pengingat pentingnya menjaga ekosistem.
Siswi asal Perumahan Griya Mangli Indah, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates itu mengaku menemukan ketenangan saat membatik.
Proses panjang dari mencanting, pewarnaan, hingga pelorodan justru menjadi ruang refleksi baginya.
“Di situlah ide-ide tentang Jember tumbuh,” tuturnya.
Bakatnya tak berhenti di ruang kelas.
Sejumlah prestasi telah ia raih. Hani pernah menyabet juara favorit dalam lomba membatik tingkat nasional.
Di level daerah, ia juga meraih juara dua lomba membatik tingkat Kabupaten Jember, mengalahkan banyak peserta dengan pengalaman lebih panjang.
Bagi Hani, penghargaan bukan tujuan utama. Ia lebih ingin batik menjadi media bercerita.
Lewat kertas dan kain, ia berharap generasi muda bisa mengenal Jember tak hanya dari nama, tetapi dari kekayaan alam, budaya, dan nilai yang menyertainya.
“Biasanya kalau ada ide langsung saya tuangkan dalam lukisan di kertas dengan format batik,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh