Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dari Medan Gerilya Jember ke Museum Telu, Kluntung Sapi Letkol Sroedji Jadi Koleksi Bersejarah

Dwi Siswanto • Selasa, 6 Januari 2026 | 07:05 WIB
DISIMPAN DI MUSEUM: Darmono Endri Susilo melihat kluntung sapi peninggalan leluhurnya yang disimpan di Museum Telu.
DISIMPAN DI MUSEUM: Darmono Endri Susilo melihat kluntung sapi peninggalan leluhurnya yang disimpan di Museum Telu.

Radar Jember - Lonceng besar yang biasa dipasang pada kalung sapi kini menghiasi salah satu dinding Museum Telu.

Namanya, kluntung sapi. Di balik benda itu tersimpan jejak sejarah perjuangan.

Selain kluntung sapi, pada peringatan hari jadi pertama Museum Telu, (3/1) juga menambah koleksi baru berupa kain tenun dan keramik yang berasal dari abad ke-19.

“Enam koleksi baru ini mulai dari kain tenun hingga keramik ini berasal dari para donatur,” ujar Priwahyu Hartanti, Pembina Yayasan Lima Cahaya Berkah Nusantara yang menaungi Museum Telu.

Sementara itu, Darmono Endri Susilo, salah satu donatur, menjelaskan bahwa kluntung sapi tersebut merupakan peninggalan leluhurnya yang juga seorang gerilyawan di wilayah Semboro.

Kluntung itu digunakan pada sapi milik Letkol Sroedji, yang difungsikan layaknya cikar untuk mengangkut prajurit dalam perang gerilya.

“Sapi itu ikut gugur dalam peristiwa perang. Kluntungnya kemudian diselamatkan oleh kusir dan diserahkan kepada anak buah Letkol Sroedji yang tidak lain adalah eyang dari almarhum istri saya dari Semboro,” tuturnya.

Kurator Museum Telu, Ade Shiddiq, menyebut Museum Telu sebagai museum termuda di Jember, namun perkembangannya terbilang cepat. Museum ini bersama beberapa museum lain di Jember, seperti Museum Kaliber dan Museum Tembakau, telah masuk dalam daftar registrasi museum nasional, baik tingkat regional maupun nasional.

“Tinggal bagaimana kita mengembangkan agar museum ini semakin baik dan bermanfaat,” katanya.

Kepala Museum Telu Moch. Hasan mengatakan, setiap tahun, museum berkomitmen menambah koleksi dan mengelaborasi simpul-simpul kebudayaan sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah dan budaya untuk generasi mendatang.

Menurutnya, bangsa Indonesia telah memiliki peradaban luhur sejak lama, namun kerap dianggap sebagai hal yang biasa.

“Padahal negara-negara Barat mengakui peradaban bangsa kita. Tugas museum adalah mengingatkan dan mengedukasi,” katanya.

Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan Jember.

Perwakilan Dispendik Jember, Oky Anis, menyatakan, keberadaan Museum Telu sejalan dengan program pendidikan yang menekankan pengenalan, penghargaan, dan kecintaan terhadap budaya.

“Kami berharap Museum Telu bisa bersinergi dengan satuan pendidikan formal dan nonformal, mulai PAUD, PKBM, hingga pendidikan vokasi,” tuturnya. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #lonceng #Museum Telu #museum