SUMBERSARI, Radar Jember - Puluhan aktivis hingga akademisi dari berbagai latar belakang berbeda, merapatkan barisan di sebuah kafe, di Jalan Semeru, Kecamatan Sumbersari, Jember, pada Senin malam (29/12/2025).
Mereka menjadi saksi atas perjalanan literasi penting bertajuk bedah buku "Reset Indonesia" di penghujung tahun 2025.
Hadir langsung sebagai penyaji, jurnalis senior Farid Gaban yang juga merupakan salah satu penulis buku tersebut.
Tidak sendirian, buku ini merupakan karya kolaboratif lintas generasi yang melibatkan jurnalis dokumenter seperti Dandy Laksono (Generasi X), Yusuf Priambodo (Milenial), dan Benaya Harabu (Generasi Z), yang hadir membawa perspektif berbeda dalam melihat kerusakan sistemik yang terjadi di tanah air.
Di sela-sela diskusi itu, Farid Gaban mengemukakan bahwa Jember merupakan titik ke-52 dari safari diskusi yang telah dilakukan selama dua bulan terakhir di berbagai pelosok Jawa.
Menurut Farid, perjalanan ini bertujuan untuk menyebarkan gagasan tentang perlunya menata ulang (reset) Indonesia, bukan sekadar melakukan perbaikan kecil.
"Dari perjalanan berkeliling Indonesia, kami merasakan adanya penurunan kualitas kita dalam bernegara selama 16 tahun terakhir. Kerusakan yang terjadi sudah sangat parah," tegas dia, di hadapan audiens yang didominasi mahasiswa, dosen, hingga aktivis lingkungan, saat itu.
Farid menguraikan, buku "Reset Indonesia" menawarkan lima pilar utama sebagai solusi atas karut-marut bangsa.
Mulai dari reforma agraria, ekonomi ramah alam, pendidikan kontekstual, penguatan koperasi, hingga jaminan sosial semesta (Universal Basic Income).
Farid menilai bahwa sistem yang terlalu tersentralisasi di Jakarta telah merusak tatanan lokal karena kebijakan seringkali diambil tanpa memahami konteks daerah.
"Banyak pihak merasa ide-ide kami radikal, namun sebenarnya yang kami lakukan adalah mempertanyakan inkonsistensi. Misalnya, pemerintah bicara membela rakyat, tapi faktanya ada segelintir tokoh politik yang menguasai lahan hingga ratusan ribu hektar. Itu fakta, bukan fitnah," jelas dia.
Diskusi yang berlangsung santai namun tajam ini juga menggarisbawahi pentingnya kembali ke kearifan tradisional dalam berdemokrasi.
Farid menyebut bahwa demokrasi sejati berakar pada musyawarah desa dan partisipasi warga, bukan sekadar pemilu lima tahunan yang dikuasai oligarki partai politik hingga bohir.
Melalui diskusi di Jember ini, ia dan rekan-rekannya berharap nalar kritis masyarakat -terutama generasi muda- tetap terjaga di tengah tantangan politik dan ekonomi yang kian berat.
"Kira-kira dari semua ide-ide itu (Reset Indonesia) mana yang membahayakan? Kalau pemerintah tidak setuju, bisa melawan, membuat alternatif. Kalau cuman dilarang menggunakan aparat, itu ya tidak mendidik. Malah menghambat publik untuk menjaga nalar kritis, jadi diskusi-diskusi seperti ini yang memantik kita untuk senantiasa kritis," katanya.
Farid menegaskan, gagasan dalam buku "Reset Indonesia" bukan sebagai bentuk upaya makar, namun undangan bagi semua elemen bangsa untuk berani membayangkan dan memperjuangkan tatanan negara yang lebih adil dan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.
"Jika kita ibaratkan komputer yang hang, kita tidak bisa sekadar melakukan restart. Kita harus melakukan Reset atau mengatur ulang semuanya ke setelan awal yang demokratis," imbuh mantan Jurnalis Republika dan Tempo, itu. (mau)
Editor : M. Ainul Budi