Radar Jember, Jember - Upaya menerapkan konsep green mining kini mulai menyentuh sektor kerajinan logam melalui pemanfaatan limbah kaleng aluminium. Di Desa Suci, Kabupaten Jember, upaya pengurangan limbah logam ringan mulai dilakukan melalui transformasi sampah kaleng aluminium menjadi karya yang bermanfaat. Inisiatif ini lahir dalam bentuk mitra kerja antara masyarakat dan tim dari Fakultas Teknik Universitas Jember untuk mengolah kaleng aluminium menjadi karya yang bernilai.
Pak Siswanto, pemilik usaha kerajinan aluminium yang bernama Eka Jaya di desa tersebut. Selama ini memproduksi kerajinan berbahan dasar plat aluminium yang dibentuk secara manual. Namun, keterbatasan teknologi membuat usaha itu belum mampu mengolah limbah kaleng aluminium bekas secara mandiri. Kondisi ini mendorong Tim Fakultas Teknik Universitas Jember melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains Dan Teknologi, mengembangkan sebuah tungku yang mampu mencairkan aluminium dari kaleng aluminium, sebagai langkah awal menuju pemanfaatan limbah secara mandiri.
Tungku pencair aluminium ini secara prinsip dirancang untuk dapat digunakan oleh pelaku usaha tanpa biaya operasional yang tinggi. Proses daur ulang ini dinilai lebih efisien dibanding produksi aluminium dari bijih mentah, sekaligus mengurangi dampak pencemaran akibat pembuangan sampah logam yang tidak terkelola. Green mining dalam program ini transformasi limbah menjadi sumber daya bernilai menjadi fokus utama. Alih-alih menambang langsung dari alam, masyarakat diajak untuk "menambang nilai" dari sampah logam di sekitar mereka. Pendekatan ini memungkinkan penerapan prinsip keberlanjutan dan pelestarian lingkungan tanpa perlu memiliki tambang fisik, cukup dengan memanfaatkan teknologi sederhana dan kreativitas lokal.
Tak hanya berdampak pada lingkungan, program ini juga memberi harapan dari sisi ekonomi. Limbah kaleng aluminium yang awalnya tidak bernilai kini bisa diolah menjadi produk yang layak jual, seperti peralatan rumah tangga. Masyarakat desa suci dapat dilibatkan dalam proses pengumpulan, pemilahan, hingga produksi, sehingga tercipta perputaran ekonomi di tingkat lokal yang memberdayakan dan mandiri.
Dengan pendekatan ini, Desa Suci tidak hanya menunjukkan bahwa green mining bisa dimulai dari desa, tetapi juga bahwa teknologi tepat guna dapat menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Kolaborasi antara tim dari Fakultas Teknik Universitas Jember , pelaku usaha lokal, dan masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan model ini. Jika terus dikembangkan, inisiatif ini berpotensi direplikasi di berbagai daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Editor : Linda Harsanti