Radar Jember - Hari ketiga libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), tak sedikit wisatawan lokal Jember memilih menghabiskan waktu di kawasan Wisata Rembangan.
Lokasinya yang relatif dekat dari pusat kota, berpadu dengan suasana perbukitan yang sejuk, membuat destinasi ini masih menjadi pilihan favorit keluarga.
Beragam wahana seperti kolam renang, ayunan, hingga permainan taman turut menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Koordinator Wisata Rembangan Budianto menyampaikan, tingkat okupansi hotel di kawasan Wisata Rembangan selama Nataru kini berada di kisaran 70 persen.
Pada hari normal, hunian hotel rata-rata hanya terisi tiga hingga lima kamar, namun selama masa Nataru jumlah kamar terisi meningkat hingga lebih dari 20 kamar per hari.
Kelas hotel tertinggi alias tipe melati menjadi yang paling diminati bahkan penuh nyaris setiap hari.
“Kalau hari biasa sedikit sekali, kalau pas nataru begini hampir penuh,” ujarnya.
Untuk rincian kamar, Hotel Melati dengan tarif tertinggi sekitar Rp 390 ribu tercatat penuh.
Kelas Mawar dengan tarif Rp 270 ribu per malam sebanyak 12 kamar dari total 16 kamar juga terisi penuh.
Sementara kelas Dahlia dengan tarif Rp 210 ribu per malam masih menyisakan cukup banyak kamar kosong.
Mayoritas tamu didominasi keluarga asal Jember yang memanfaatkan libur Nataru tanpa harus bepergian jauh.
“Pengunjung paling banyak keluarga lokal,” kata Budi.
Selain mengandalkan panorama dan wahana, pengelola juga menghadirkan hiburan seni budaya untuk menambah daya tarik.
Seperti penampilan musik patrol dan jaranan yang belakangan ini dilakukan oleh komunitas Laskar Kesenian Jember yang bekerjasama dengan Disparbud.
Ke depan, kegiatan serupa direncanakan bisa berlangsung rutin dan berpotensi menjadi agenda mingguan.
“Tadi malam sudah yang kedua kalinya, ke depan kami harapkan bisa terus berlanjut,” imbuhnya, Sabtu (27/12) lalu.
Meski okupansi meningkat, pengelola mengakui tetap menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan pegawai hingga pengelolaan air bersih.
Dengan status pegawai yang terbatas, sebagian harus lembur demi menjaga kebersihan dan pelayanan selama libur Nataru.
“Pegawai kami terbatas, jadi harus ekstra menjaga pelayanan agar tamu tetap nyaman,” pungkas Budi. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh