Radar Jember – Produksi padi Kabupaten Jember sepanjang 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Jember mencatat, hingga November 2025 luas tanam padi hanya mencapai 139.613 hektare, turun hampir 30 ribu hektare dibanding 2024 yang mencapai 166.807 hektare.
Dampaknya, produksi gabah kering panen (GKP) ikut turun dari 988.885 ton menjadi 934.403 ton.
Kabid Tanaman Pangan DTPHP Jember Luhur Prayogo menjelaskan, penurunan itu tidak terjadi secara tunggal.
Faktor paling dominan adalah iklim ekstrem yang mengacaukan pola tanam.
Curah hujan yang tidak menentu dan cenderung memanjang membuat jadwal tanam bergeser dan memicu risiko gagal panen di sejumlah wilayah.
“Hujan terlalu panjang dan tidak sesuai pola normal, ini memengaruhi keputusan petani dalam menanam,” ujarnya.
Selain iklim, intensitas serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) juga meningkat.
Pola tanam tiga kali setahun membuat hama seperti tikus dan wereng berkembang lebih agresif.
Kondisi ini menekan produktivitas sawah, terutama di wilayah yang pengendalian hamanya tidak dilakukan sejak dini.
“Ini anomali. OPT muncul lebih kuat karena siklus tanam semakin rapat,” kata Luhur.
Faktor lain yang turut menekan produksi adalah pergeseran komoditas.
Pada musim kemarau panjang, sebagian petani memilih beralih dari padi ke palawija, tebu, hingga komoditas lain yang dinilai lebih aman secara ekonomi.
Perubahan ini membuat luasan tanam padi berkurang meski lahan pertanian secara umum masih tersedia.
“Misalnya cabai mahal, petani menanam cabai, nanti ada komoditas apa yang mahal, nanti menanam komoditas itu. Tidak selalu menanam padi khususnya di wilayah utara,” imbuhnya.
Meski produksi turun, DTPHP menilai potensi sawah Jember sebenarnya masih besar.
Produktivitas rata-rata saat ini berada di kisaran 5–6 ton per hektare, padahal kemampuan lahan dapat mencapai 7–8 ton per hektare.
Pemetaan dinas menunjukkan wilayah Jember tengah hingga selatan seperti Balung, Mumbulsari, Umbulsari, dan Ambulu bahkan sudah mencapai produktivitas 7 ton per hektare, sementara daerah dataran lebih tinggi seperti Silo masih di kisaran 5-6 ton.
Untuk 2026, DTPHP menyiapkan koreksi kebijakan dengan fokus pada intensifikasi.
Mulai dari perbaikan irigasi, ketepatan sarana produksi, penggunaan benih yang tidak terlalu tua, hingga pemanfaatan alat tanam modern seperti rice transplanter.
Pengendalian hama dan pengurangan kehilangan hasil saat panen juga menjadi prioritas agar potensi lahan bisa dimaksimalkan.
“Lahan kita tidak bertambah, tapi produktivitas masih bisa didorong,” tegas Luhur. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh