Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dosen UIN KHAS Jember Ungkap Pembuangan Bayi Bukan Sekadar Kejahatan, Ini Puncak Tekanan Psikologis

M Adhi Surya • Rabu, 24 Desember 2025 | 13:40 WIB
 “Sebagian besar kasus pembuangan bayi berawal dari kehamilan di luar nikah yang terjadi tanpa kesiapan psikologis, sosial, maupun moral,” Dr Suryadi, Dosen BKI UIN KHAS Jember.
 “Sebagian besar kasus pembuangan bayi berawal dari kehamilan di luar nikah yang terjadi tanpa kesiapan psikologis, sosial, maupun moral,” Dr Suryadi, Dosen BKI UIN KHAS Jember.

Radar Jember – Maraknya kasus pembuangan bayi di Jember sepanjang 2025 dinilai sebagai fenomena sosial yang kompleks dan memprihatinkan.

Peristiwa tersebut tidak bisa dilihat semata-mata sebagai tindak kriminal.

Melainkan akumulasi persoalan psikologis, sosial, dan moral yang saling berkaitan, terutama yang berawal dari kehamilan tidak diinginkan akibat hubungan gelap.

Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN KHAS Jember, Dr Suryadi, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar tindak kriminal, melainkan cerminan krisis moral, psikologis, dan sosial yang saling bertaut.

“Sebagian besar kasus pembuangan bayi berawal dari kehamilan di luar nikah yang terjadi tanpa kesiapan psikologis, sosial, maupun moral,” ujarnya.

Menurutnya, relasi yang dibangun di luar ikatan pernikahan kerap menempatkan perempuan dalam posisi rentan ketika harus menghadapi konsekuensi kehamilan.

Secara psikologis, perempuan yang mengalami kehamilan di luar nikah berada dalam tekanan emosional yang berat.

“Rasa takut, malu, cemas, bersalah, dan tekanan sosial dari lingkungan itu menumpuk dan membebani kondisi kejiwaan,” jelasnya.

Ketakutan akan penolakan keluarga dan stigma masyarakat membuat individu merasa terjebak dalam situasi tanpa jalan keluar.

Dalam kondisi tertekan tersebut, kemampuan berpikir rasional sering kali terganggu.

Suryadi menegaskan bahwa pembuangan bayi merupakan puncak dari tekanan psikologis yang tidak terkelola.

“Keputusan membuang bayi biasanya bukan keputusan rasional, melainkan pilihan instan yang muncul saat individu berada dalam keadaan panik dan putus asa,” katanya.

Ia menilai, kasus pembuangan bayi juga menunjukkan adanya kegagalan sistem dukungan psikososial.

“Banyak individu tidak memiliki tempat aman untuk berbagi masalah, mendapatkan empati, dan memperoleh arahan yang tepat,” ungkapnya.

Layanan konseling yang bersifat preventif, lanjutnya, sering kali tidak dimanfaatkan atau bahkan belum tersedia secara memadai di masyarakat.

Menurut Suryadi, pendekatan konseling harus dilakukan secara menyeluruh.

“Konseling individual, konseling keluarga, dan konseling berbasis nilai perlu berjalan beriringan untuk membantu individu mengelola emosi, memperbaiki komunikasi, dan memperkuat tanggung jawab moral,” jelasnya.

Selain itu, edukasi kesehatan reproduksi dan penguatan nilai agama dinilai penting sebagai langkah pencegahan.

Ia menegaskan bahwa penanganan kasus pembuangan bayi harus dilakukan secara holistik dan berkelanjutan.

“Psikologi dan konseling tidak hanya hadir setelah tragedi terjadi, tetapi harus berperan dalam membangun kesadaran, ketahanan mental, dan sistem dukungan yang kuat,” pungkasnya. (dhi/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #kasus pembuangan bayi #UIN KHAS Jember