Radar Jember – Dataran rendah di Kabupaten Jember dinilai memiliki tingkat kesuburan tanah lebih baik dibanding wilayah dataran tinggi.
Salah satu indikatornya terlihat dari produktivitas padi.
Dalam satu hektare lahan sawah, dataran rendah mampu menghasilkan gabah hingga dua ton lebih banyak dibanding sawah di wilayah pegunungan.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Jember Luhur Prayogo menjelaskan, perbedaan itu berkaitan erat dengan proses alam yang berlangsung dari hulu ke hilir.
Wilayah dataran tinggi yang berada di utara Jember menjadi daerah tangkapan air.
Saat hujan turun, lapisan tanah paling subur perlahan tergerus dan unsur haranya terbawa aliran air menuju wilayah yang lebih rendah.
“Air yang mengalir terus-menerus dari dataran tinggi membawa partikel tanah dan nutrisi ke bawah. Lama-kelamaan unsur hara itu mengendap di dataran rendah, sehingga tanahnya lebih kaya nutrisi,” ujarnya.
Proses tersebut membuat wilayah Jember tengah hingga selatan seperti Balung, Mumbulsari, Umbulsari, dan Ambulu memiliki potensi produksi padi yang tinggi.
DTPHP mencatat, di kawasan tersebut produktivitas padi per hektare bisa mencapai 7 ton, bahkan di beberapa titik mendekati 8 ton.
Sebaliknya, di wilayah dataran tinggi seperti Silo, produktivitas masih berada di kisaran 5 hingga 6 ton per hektare.
Padahal secara potensi, lahan pertanian Jember dinilai mampu menghasilkan 7–8 ton padi per hektare.
Artinya, masih terdapat selisih sekitar dua ton yang bisa dikejar melalui perbaikan pengelolaan.
Upaya itu antara lain dilakukan dengan pemilihan benih yang tepat, pengolahan tanah yang baik, serta penggunaan alat tanam modern seperti planter agar usia tanam lebih ideal.
“Benih yang terlalu tua justru bisa menurunkan hasil,” katanya.
Selain itu, ketersediaan pupuk dengan jumlah cukup dan harga terjangkau menjadi faktor krusial.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman juga harus dilakukan sejak dini.
Termasuk meminimalkan kehilangan hasil saat panen akibat gabah rontok atau tercecer, yang selama ini kerap menggerus angka produksi.
“Kalau faktor-faktor itu dimaksimalkan, produksi di dataran tinggi bisa menjadi 7 ton juga,” katanya.
Namun Luhur menegaskan, kesuburan dataran rendah tidak berarti dataran tinggi kalah produktif untuk semua komoditas.
Tanaman tertentu justru lebih optimal dibudidayakan di wilayah pegunungan.
“Sayuran dataran tinggi, buah-buahan, hingga beberapa komoditas perkebunan lebih cocok di wilayah atas. Karena itu kami atur pola komoditas, selatan fokus padi, utara sayur dan buah,” pungkasnya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh