Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Petaka Ujung 2025: Ribuan KK Terdampak Banjir Jember, Sungai Meluap dan Fasum Rusak Parah

Maulana RJ • Senin, 22 Desember 2025 | 13:30 WIB
Bekas banjir dari luapan Sungai Bedadung yang menimpa warga di Perumahan Villa Indah Tegal Besar, Jember, Senin malam (16/12).
Bekas banjir dari luapan Sungai Bedadung yang menimpa warga di Perumahan Villa Indah Tegal Besar, Jember, Senin malam (16/12).

Radar Jember - Banjir besar yang menerjang Jember Senin (15/12) lalu seperti mengulang tragedi kelam banjir bandang Jember tahun 2006.

Meski tak separah dulu, namun banjir di ujung tahun 2025 ini cukup membuat masyarakat terpukul.

Kepanikan warga malam itu benar-benar keluar dari sarangnya. Media sosial mendadak ramai dengan postingan video dan foto yang menampilkan volume air sungai yang meningkat drastis.

Suara-suara kepanikan warga terdengar seolah tak kuasa melihat petaka alam yang tanpa mengenal waktu itu telah di depan mata. Banjir!

Puncaknya, ketika sejumlah sungai–seperti Sungai Kalijompo dan Sungai Bedadung–sudah tak mampu lagi menahan debit air bercampur lumpur dan material yang telah menyentuh batas ketinggian tanggul sungai, pada Senin malam (15/12) waktu setempat.

Air dengan cepat meluber ke rumah-rumah warga dan menggenangi harta benda mereka, tepat saat kebanyakan orang telah terlelap atau beristirahat.

Kepanikan kian mencekam begitu mengetahui banjir juga menyeret sejumlah perabotan rumah warga hingga terbawa arus sungai.

Tidak hanya rumah-rumah warga, banjir juga menggenangi sejumlah fasilitas umum.

Bahkan beberapa diantaranya rusak parah akibat terjangan banjir.

BPBD Jember melaporkan, terdapat puluhan titik banjir dengan total ribuan KK yang menjadi korban banjir akibat luapan sungai-sungai besar ini.

Salah satu titik banjir yang cukup parah menerjang warga yang tinggal di Perumahan Villa Indah Tegal Besar, Kelurahan/Kecamatan Tegal Besar, Jember.

Perumahan yang diketahui berlokasi persis di daerah bantaran Sungai Bedadung itu seperti menanti bencana tiba.

Antara deretan rumah dengan sungai, hanya disekat tembok setinggi sekitar satu meter.

"Saya cukup kaget, ternyata perumahan ini temboknya langsung berbatasan dengan sungai (Bedadung)," sesal Bupati Jember Muhammad Fawait, saat turun ke perumahan itu, Selasa dini hari (16/12) sekitar pukul 01.00 waktu setempat, bersama rombongan.

Sebuah bisnis properti yang telah berdiri bertahun-tahun di bantaran sungai itu seketika juga "banjir" sorotan.

Demi kepentingan bisnis, aspek keselamatan seolah menjadi nomor sekian.

Pada Selasa siang (16/12) waktu setempat, Tim Khusus Utusan Pemkab Jember yang diketuai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jember Achmad Imam Fauzi, menyusul turun ke lokasi banjir di perumahan tersebut, seusai lawatan rombongan bupati.

Fauzi tidak sendiri, ia bersama Kepala Bappeda Arief Tyahyono, Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP, Tita Fajar Ariyatiningsih, dan Sekretaris Dinas Cipta Karya Jember Arif Liyantono, serta beberapa lainnya.

Tak hanya memastikan penanganan awal untuk para korban banjir, mereka juga mengumpulkan informasi seputar perumahan yang berdiri di bantaran Sungai Bedadung tersebut.

Bahkan tercatat, banjir di lokasi perumahan itu merupakan kali kedua, setelah sebelumnya sempat terjadi pada tahun 2021.

"Ini bukan Tuhan yang murka, tapi hak sungai melekuk dihalangi oleh kerakusan developer, jadi wajar kalau sungai mengambil haknya hari ini. Yang jadi korban siapa? ya masyarakat yang kontrak bisnis dengan developer," kata Fauzi.

Sorotan dan kecaman itu terus mengemuka seiiring dengan masih tingginya intensitas hujan selama penghujung tahun ini, yang membuat peristiwa serupa berpotensi terulang kembali.

"Keserakahan developer ini atas dalih pembangunan perumahan, menghalalkan segala cara. Dan itu cara-cara biadab," kelakar Fauzi.

Ia menegaskan pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas untuk memulihkan daerah bantaran sungai terbesar di Jember itu, dengan memanggil para pihak terkait.

Termasuk bos-bos pengembang perumahan di Jember.

"Tugas pemerintah bagaimana mengamankan korban, terkait bisnis to bisnis, sanksi, termasuk opsi merelokasi, nanti kita review. Kita akan panggil semua perumahan, bukan hanya ini saja. Saya tidak melihat backgroundnya, ideologinya apa, preferensinya apa, akan kita tertibkan," tegas Fauzi.

Dalam kesempatan berbeda saat ditemui di Pendapa Wahyawibawagraha, Bupati Gus Fawait memastikan langkah cepat penanganan banjir di lokasi, terutama di lokasi perumahan di bantaran tersebut.

Mulai bantuan logistik, mendirikan tenda, hingga dropping air bersih.

"Di awal tentu kita bikin darurat dulu, nanti kita percepat supaya ada pembangunan dan perbaikan untuk jembatan tersebut. (Rumah-rumah warga) Pasti juga kita fikirkan," katanya.

Gus Fawait juga mengatakan, kerusakan sejumlah fasilitas -seperti jembatan- juga akan dipercepat pembangunannya dalam waktu cepat, demi aksesibilitas masyarakat kembali pulih.

"Kita akan masukkan dalam perencanaan di Bulan Januari. Mudah-mudahan, Januari- Februari 2026 sudah bisa dibangun kembali. Saya mohon do'a, mudah-mudahan hari ini -dimana-mana, bukan hanya di Jember- kita terhindar dari bencana," harapnya. (mau/nur)

BENCANA ALAM DI JEMBER

Lokasi Terdampak Banjir

18 Desa/Kelurahan, di 8 kecamatan terdampak.

 

Korban Banjir Luapan Sungai Bedadung:

Tanah Longsor

Kerusakan Akibat Banjir dan Tanah Longsor:

Keterangan: Korban Jiwa Selama bencana Tahun 2025 yakni 5 orang.

Sumber: Pusdalops BPBD Jember. Update per 21 Desember 2025.

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Sungai Bedadung #Jember #banjir luapan #perumahan terendam banjir