Radar Jember – Aspirasi agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) distop dan dialihkan dengan berupa bantuan lain sudah bukan rahasia umum.
Namun, program MBG terus jalan. Akibatnya, terjadi ketidakadilan program di lapangan.
Ada siswa yang sudah makan gratis berbulan-bulan, tetapi mayoritas siswa di Jember masih belum dapat MBG.
Nah, di Jember, banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah beroperasi. Akan tetapi, lebih banyak SPPG yang belum beroperasi.
Bisa dibilang, jumlah sekolah yang tersentuh MBG baru sekitar 10 persen. Sebaliknya, sekitar 90-an persen sekolah belum tersentuh MBG.
Ini mulai dari lembaga pendidikan tingkat PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA, maupun sederajat.
Padahal, program ini sudah berjalan sekitar satu tahun. Untuk itu, publik banyak yang berpendapat agar program MBG distop dan dialihkan pada program lain.
Pendapat yang paling banyak berseliweran yakni, meminta pengalihan program MBG agar diberikan dalam bentuk uang kepada wali murid atau dalam bentuk beras.
Kabar terbaru, setelah SPPG di Desa/Kecamatan Jenggawah berhenti operasi beberapa waktu lalu, kemarin SPPG di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, mendadak terhenti.
Aktivitas yang biasanya sibuk sejak hari kini sunyi. Puluhan pekerja terpaksa dirumahkan sementara.
Penghentian operasional SPPG di Desa Sumberejo ini diketahui melalui surat yang beredar luas di media sosial.
Dalam surat itu disebutkan, penghentian sementara dilakukan per Selasa (16/12) setelah dapur beroperasi dalam sebulan.
Dana operasional yang biasa digunakan untuk membeli bahan baku disebut belum juga turun. Kondisi ini membuat dapur tak bisa berproduksi seperti biasa.
Kepala SPPG Sumberejo Dimas Widia Adi Nugroho membenarkan hal itu. Dimas menyebut kendala tersebut bersifat sementara.
“Sekarang kendala dana, atau mungkin karena mau tutup tahun, anggaran sudah menipis. Insyaallah mau dicairkan tahun depan, informasinya awal tahun,” katanya kemarin.
Sejak mulai beroperasi pada 10 November 2025, keterlambatan dana baru kali ini terjadi. Sebelumnya, penyaluran anggaran untuk program MBG berjalan lancar tanpa hambatan.
Dimas menyebut keterlambatan ini tidak hanya dialami SPPG Sumberejo. Beberapa dapur MBG di wilayah lain juga menghadapi persoalan serupa.
“Belum pernah (dana terlambat cair, Red). Untuk saat ini juga banyak dapur-dapur lain yang ada keterlambatan. Seperti di Mumbulsari, Gumukmas, Lumajang juga ada. Tapi itu hanya sementara saja,” terangnya.
Dimas mengaku belum mengetahui penyebab pasti keterlambatan pencairan dana tersebut. Ia menepis anggapan bahwa hal ini berkaitan dengan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) maupun libur sekolah.
Dia menjelaskan, distribusi tetap bisa dilakukan saat libur dengan mekanisme tertentu. Namun hingga kini, SPPG masih menunggu instruksi lanjutan.
“Kalau libur masih didistribusikan nanti, ini menunggu petunjuk lanjutan. Kalau distribusikan itu nanti menu kering, ada kesepakatan dari sekolah dan wali muridnya yang ambil,” jelasnya.
Setiap hari, SPPG Sumberejo ini melayani 2.455 penerima manfaat program MBG. Terhentinya dana membuat suplai bahan baku ikut terhenti.
Akibatnya, 47 karyawan atau relawan sementara beserta kepala SPPG, akuntansi dan ahli gizi diliburkan sejak 17 Desember 2025.
Operasional dapur baru akan kembali berjalan setelah dana tersedia.
“Karyawan libur, karena bahan baku yang mau diolah tidak ada. Sedangkan untuk beli bahan kan harus ada dana juga,” pungkasnya. (kin/nur)
TENTANG SPPG MBG DI JEMBER:
- Dari ribuan sekolah di Jember, baru sekitar 10 persen sekolah yang sudah tersentuh MBG atau 90-an persen yang belum.
- Dalam perjalanannya, beberapa SPPG menyetop operasi karena dananya belum cair.
- Terjadi ketidakadilan antara siswa yang sudah tersentuh MBG dan mayoritas siswa yang belum tersentuh MBG.
- Perlu solusi terbaik, sehingga program tidak terkesan asal-asalan, dipaksakan, dan tidak menjadi program yang tidak adil.
- Pemerintah pusat perlu membuka diri untuk menerima aspirasi atas solusi MBG.
- Aspirasi yang beredar luas saat ini yaitu:
* Mengalihkan program MBG, menjadi bantuan uang tunai yang diberikan kepada wali murid.
* Mengalihkan program MBG, berupa bantuan beras yang diberikan kepada wali siswa.
# SUMBER: Diolah dari berbagai sumber.
Editor : Imron Hidayatullahh