Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cuaca Ekstrem Terjang Jember, 1.271 KK Terdampak Banjir, Jembatan Rusak dan Satu Warga Tewas

Sidkin • Rabu, 17 Desember 2025 | 13:00 WIB

GOTONG ROYONG: Warga bersama personel BPBD, TNI, Polri, dan relawan melakukan pembersihan material sisa banjir di Perumahan Villa Indah Tegal Besar, kemarin (16/12/2025).
GOTONG ROYONG: Warga bersama personel BPBD, TNI, Polri, dan relawan melakukan pembersihan material sisa banjir di Perumahan Villa Indah Tegal Besar, kemarin (16/12/2025).

Radar Jember - Hujan yang turun cukup lebat menguji kesiapsiagaan warga dan petugas.

Air meluap, tanah longsor, pohon tumbang, hingga ombak besar terjadi di Jember menjadi rangkaian dampak cuaca ekstrem.

Kini, Jember berada dalam kondisi siaga bencana.

Cuaca ekstrem melanda Jember sejak Senin siang (15/12) hingga malam.

Hujan lebat disertai angin kencang memicu banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di sejumlah wilayah.

Dampak paling besar terjadi di kawasan permukiman yang berada di bantaran sungai.

Penanganan pun langsung dilakukan ke lokasi terdampak. Bahkan, satu orang ditemukan tewas, akibat terseret banjir.

Sejak banjir mulai terjadi, BPBD Jember berkoordinasi dengan TNI, Polri, relawan, dan perangkat daerah untuk menangani banjir dan longsor.

Penanganan juga dilakukan pada pohon tumbang serta pemantauan wilayah pesisir yang terdampak gelombang tinggi.

Fokus utama diarahkan pada keselamatan warga dan pembukaan akses yang terganggu.

“BPBD bersama unsur terkait telah melakukan penanganan banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga wilayah pesisir yang terdampak ombak besar,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jember Wahyudi.

Bahkan, beberapa jembatan di Jember rusak, berikut beberapa fasilitas umum seperti plengsengan dam.

Rumah-rumah digenangi air dan kemarin menyisakan lumpur.

Bantuan logistik mulai disalurkan sejak malam kejadian ke lokasi-lokasi terdampak.

Logistik tersebut mencakup kebutuhan dasar serta peralatan masak untuk mendukung dapur mandiri warga.

Pada pagi harinya, tim juga menurunkan peralatan penyedot air untuk membersihkan genangan dan lumpur, termasuk pada sumur rumah penduduk.

Terkait pengungsian, BPBD menyesuaikan dengan kondisi dan tingkat keamanan di masing-masing lokasi.

Di wilayah yang masih relatif aman, warga diungsikan ke rumah tetangga terdekat.

Sementara di titik dengan dampak lebih besar, pengungsian dilakukan di musala, aula kelurahan, serta didirikan tenda BPBD.

“Tempat pengungsian bersifat situasional, ada yang cukup di rumah tetangga, ada pula yang memerlukan tenda,” ujar Wahyudi.

Berdasarkan pendataan sementara, cuaca ekstrem ini berdampak pada 1.271 kepala keluarga (KK) dan satu korban meninggal tewas akibat terseret banjir.

Di antara warga terdampak terdapat 16 lansia, 10 balita, dan satu ibu hamil yang menjadi prioritas penanganan.

Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun tercatat kerusakan rumah dengan kategori rusak berat satu unit, satu rumah rusak sedang, dan empat rumah rusak ringan.

Selain itu dua fasilitas umum dan tiga jembatan rusak.

“Pendataan terus kami perbarui untuk memastikan seluruh warga terdampak tertangani,” imbuhnya.

Selain banjir, tanah longsor terjadi di beberapa kecamatan dan sempat menutup akses jalan serta merusak lahan.

Penanganan dilakukan dengan pembersihan material longsor dan pengamanan lokasi rawan.

BPBD juga terus melakukan pemantauan pada daerah-daerah berisiko tinggi bencana hidrometeorologi.

“Kondisi saat ini memang banjir sudah surut. Tetapi kami tetap siaga di lokasi rawan, termasuk daerah perbukitan dan aliran sungai,” ujar Wahyudi.

BPBD Jember mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga Februari.

Warga, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan longsor, diminta lebih berhati-hati dan peka terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Informasi cuaca akan terus diperbarui melalui BPBD dan BMKG.

“Kami berharap masyarakat terus mengikuti informasi resmi dan segera melapor jika terjadi kondisi darurat,” jelasnya.

Banyak Fasum yang Rusak

Sementara itu, banjir luapan sungai merendam ratusan rumah warga Jember di kawasan perkotaan hingga perdesaan.

Air masuk ke permukiman dengan ketinggian bervariasi, mulai 30 sentimeter hingga mencapai dua meter.

Kondisi tersebut menyebabkan lantai, dinding rumah, hingga perabotan warga rusak dan tak sedikit yang hanyut terbawa arus.

Lumpur tebal menyisakan kerusakan yang menyulitkan warga saat kembali ke rumah.

Aktivitas sehari-hari lumpuh karena rumah tidak dapat langsung ditempati.

Kerusakan rumah paling banyak terjadi di wilayah yang berada dekat bantaran sungai.

Itu seperti di Kelurahan Kepatihan, Jember Kidul, Tegal Besar dan Mangli di Kecamatan Kaliwates hingga Kebonsari, Kecamatan Sumbersari.

Di beberapa lokasi, dapur rumah warga ambruk akibat tergerus arus banjir yang cukup deras.

Plengsengan dan tembok penahan air yang sebelumnya dibangun untuk menahan luapan sungai juga rusak dan jebol.

Akibatnya, air sungai langsung masuk ke kawasan permukiman tanpa penghalang. Warga terpaksa mengungsi ke musala hingga rumah tetangga.

Banjir tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga berdampak serius pada infrastruktur penghubung antarwilayah.

Di Desa Patemon, Kecamatan Pakusari, jembatan desa di belakang Koramil Arjasa mengalami kerusakan berat hingga putus total.

Jembatan sepanjang sekitar 20 meter dan lebar dua meter itu tergerus arus banjir sepanjang kurang lebih tiga meter.

Struktur bagian bawah dan sisi jembatan terkikis sehingga tidak lagi aman untuk dilalui.

Akibatnya, akses warga terputus dan kendaraan tidak dapat melintas.

Kerusakan jembatan juga terjadi di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, yang menjadi jalur penghubung antardusun.

Jembatan ini retak akibat tergerus arus banjir, diperparah dengan ambrolnya plengsengan di sekitar lokasi.

Kondisi ini membuat jembatan rawan ambruk jika dilalui kendaraan berat.

Selain itu, satu jembatan gantung di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi mengalami kerusakan parah akibat diterjang banjir aliran Sungai Bedadung.

Secara keseluruhan, tiga jembatan terdampak banjir, dengan dua di antaranya mengalami kerusakan berat.

Besarnya dampak banjir ini menunjukkan kerentanan permukiman dan infrastruktur di sepanjang aliran sungai.

Total lebih dari seribu kepala keluarga terdampak, termasuk lansia, balita, dan ibu hamil yang membutuhkan perhatian khusus.

Oleh karena itu, penanganan pascabencana harus dilakukan secara kompleks.

Serta evaluasi dan perbaikan permanen di kawasan rawan banjir menjadi kebutuhan mendesak agar kejadian serupa tidak terus berulang. (kin/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#BPBD Jember #Sungai Bedadung #Jember #banjir luapan #hujan lebat