Pengurus koperasi yang belum bisa tumbuh berkembang, pelu banyak belajar.
Salah satunya bisa mengunjungi KDMP Sidomulyo yang sudah tembus pasar dunia dan menjadi kopersi percontohan nasional.
Ini agar bisa cepat beroperasi dan menghasilkan.
MAULANA,
SIDOMULYO - Radar Jember
SELURUH desa dan kelurahan dituntut untuk mendirikan Koperasi Merah Putih (KMP). Namun, tak semuanya berjalan dengan baik.
Ada yang masih ribet pada urusan administrasi, ada yang bingung pada urusan permodalan, dan ada yang bingung usaha apa yang akan dijalankan oleh koperasi.
Nah, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, kini menjadi sorotan setelah berhasil mentransformasi komoditas lokal menjadi produk ekspor berkualitas tinggi.
Keberhasilan ini mengukuhkan KDMP Sidomulyo sebagai salah satu koperasi percontohan, tidak hanya di Jember, tetapi juga di tingkat nasional. Hal ini layak menjadi tempat studi banding bagi desa-desa lain.
Pembina KDMP Sidomulyo, Kamiludin, yang juga Kepala Desa Sidomulyo, mengungkapkan kebanggaannya.
“KDMP Sidomulyo ini adalah salah satu koperasi percontohan nasional, Kementerian Koperasi. Jadi di Indonesia ini hanya ada delapan percontohan nasional, salah satunya KDMP Sidomulyo,” katanya, Jumat (12/12).
Terpilihnya KDMP Sidomulyo sebagai percontohan nasional bukan tanpa alasan. Kamiludin menjelaskan kelengkapan gerai mereka sebagai nilai unggul.
“Nah, kami terpilih karena gerai kami adalah gerai yang paling lengkap, selain kopi. Mulai dari klinik, apotek, sembako, simpan pinjam, logistik, dan juga pergudangan, semuanya ada,” bebernya.
Di balik kesuksesan itu, perjalanan KDMP Sidomulyo dari nol hingga sukses menembus pasar global, tak luput dari kendala tantangan. Terutama dalam aspek pembiayaan permodalan, manajemen kepengurusan, dan cost operasional.
Kamiludin pun mengakui tantangan terbesar itu pada soal permodalan dalam perdagangan kopi. “Tantangan terbesarnya adalah di permodalan, terus terang petani kopi itu tidak bisa diutangi, dalam arti ketika petani jual kopi, harus dibayar cash,” katanya.
Sementara itu, sistem penjualan ke luar negeri, lanjut dia, menggunakan skema cash tempo, di mana pembayaran awal deposito (DP) hanya 25 persen dan pelunasannya, baru dilakukan dua hingga tiga minggu kemudian.
Untuk menyiasati kesenjangan modal tersebut, Kamiludin mengaku KDMP Sidomulyo harus bergerak aktif mencari dukungan.
“Untuk menyiasati kekurangan modal itu, kami mengakses ke Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan juga beberapa Himbara,” tambahnya.
Bicara soal kesuksesan melakukan ekspor, KDMP ini mengawali dengan membangun kemitraan erat dengan petani dan warga lokal. Mereka tidak hanya menjadi mitra, namun juga suplier komoditi tertentu dengan jaminan harga yang bersaing.
Pada akhir Agustus 2025, KDMP Sidomulyo mencatatkan ekspor perdana ke tiga negara, yaitu Brunei Darussalam, Hong Kong, dan Singapura. Komoditas yang diekspor mencakup kopi berkualitas tinggi, serta produk kerajinan tangan seperti batik, syal, dan handicraft. Total nilai kontrak Letter of Intent (LOI) saat itu mencapai 78 ribu USD, dengan rincian 30 ribu USD dari Brunei, 23 ribu USD dari Hong Kong, dan 25 ribu USD dari Singapura.
Progres itu pun berlanjut pesat. Belum lama ini, KDMP Sidomulyo kembali melakukan ekspor, menembus pasar Timur Tengah.
“Di November kemarin berhasil melakukan direct ekspor ke luar negeri, tepatnya ke Mesir, sebanyak satu kontainer,” katanya.
Meski telah menembus pasar global, Kamiludin tampaknya belum berpuas diri.
Proyeksi dan ekspansi bisnis di tahun mendatang disebutnya telah mengantongi kontrak besar.
“Di Tahun 2026, kami ada kontrak tiga ribu sampai lima ribu ton (kopi). Mudah-mudahan bisa mendapatkan nilai yang terbaik untuk meningkatkan perekonomian petani kopi di Sidomulyo,” katanya.
Lebih lanjut, Kamiludin berharap kesuksesan KDMP Sidomulyo ini dapat menjadi pemicu semangat. Khususnya untuk sekitar 226 pemerintah desa dan kepala desa, se Jember.
“Semoga dengan adanya KDMP Sidomulyo sebagai percontohan nasional, mudah-mudahan menginspirasi kades-kades di seluruh Jember, supaya bersama-sama memajukan Indonesia emas di tahun 2045," imbuh Ketua Apdesi Jember itu. (nur)
Editor : M. Ainul Budi