KEPATIHAN, Radar Jember – Menjelang masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru), KAI Daop 9 Jember mulai menggeser fokus pengamanan ke titik-titik yang berpotensi mengganggu perjalanan.
Salah satunya dilakukan lewat inspeksi jalur menggunakan lori dresin, pemeriksaan ini penting mengingat curah hujan mulai meningkat dan volume perjalanan diprediksi naik dalam dua pekan ke depan.
Manager Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, inspeksi ini menyoroti sejumlah lintas berkontur ekstrem.
Jalur Gumitir kembali menjadi perhatian, terutama karena kombinasi tebing curam dan terowongan yang menuntut standar keselamatan lebih ketat. “Kami turun untuk melihat kondisi ril, bukan hanya berdasarkan laporan rutin,” katanya.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan beberapa titik membutuhkan penanganan teknis ringan dan pemantauan intensif. Petugas diminta mempercepat respons jika ada perubahan kondisi tanah akibat hujan.
“Kesiapan personel tidak kalah penting dari kondisi rel. Mereka harus sigap terhadap situasi apa pun,” ujar Cahyo.
Untuk menunjang pengawasan, KAI Daop 9 menambah 108 petugas Jaga Jalan Lintasan (JPL) ekstra yang ditempatkan di lima wilayah kerja.
Penambahan ini diprioritaskan untuk perlintasan yang rawan pelanggaran pengguna jalan, terutama pada jalur padat di Jember dan Banyuwangi.
“Penempatan personel dilakukan berdasarkan evaluasi kecelakaan tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Tidak hanya JPL, tim Penilik Jalan (PPJ) ekstra juga disiagakan secara fleksibel.
Mereka bertugas memantau jalur rawan longsor dan genangan air, terutama pada malam hari.
“Jika curah hujan melewati batas aman, kami bisa langsung mengalihkan kecepatan kereta atau melakukan penanganan di titik rawan,” tuturnya.
Selain jalur, stasiun-stasiun di wilayah Daop 9 tak luput dari pemeriksaan. Fasilitas keselamatan seperti APAR, pencahayaan, dan jalur evakuasi dicek ulang.
Petugas diminta memastikan tidak ada alat keselamatan yang kedaluwarsa atau tertutup barang penumpang, kondisi yang kerap ditemukan menjelang liburan panjang.
Pada aspek kesehatan, pos pelayanan diminta menambah ketersediaan P3K, tabung oksigen, hingga AED.
Langkah ini menjadi standar baru setelah tahun lalu ada peningkatan kejadian penumpang kelelahan saat puncak arus balik.
“Kami tidak menunggu kejadian dulu baru bertindak,” tegas Cahyo. (dhi/bud)
Editor : M. Ainul Budi