Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bias Normalitas Masih Kuat di Jember: Warga Anggap Ancaman Bencana sebagai Hal Biasa meski Risiko Tinggi

Sidkin • Jumat, 12 Desember 2025 | 14:10 WIB
“Tanda bahaya sudah tampak, tetapi direspons seolah tidak ada ancaman." JANUARIYA LAILI, Dosen Fakultas Psikologi Unmuh Jember.
“Tanda bahaya sudah tampak, tetapi direspons seolah tidak ada ancaman." JANUARIYA LAILI, Dosen Fakultas Psikologi Unmuh Jember.

Radar Jember – Normalcy bias atau kecenderungan psikologis untuk menganggap situasi berbahaya sebagai kondisi normal dinilai masih banyak terjadi di Jember.

Padahal daerah ini sedang memasuki puncak musim hujan, fase yang membuat potensi bencana hidrometeorologi meningkat tajam.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, Januariya Laili, menjelaskan normalcy bias muncul karena cara pandang masyarakat terbentuk oleh pengalaman kolektif dan lingkungan sosialnya.

Banyak warga menilai bencana sebagai hal biasa karena selama ini tidak dilibatkan dalam mitigasi.

Sehingga sikap siaga tidak pernah benar-benar terbentuk.

“Akhirnya ada anggapan bahwa ancaman bencana tidak perlu dipikirkan berlebihan, padahal risikonya jelas,” ujarnya.

Contohnya terjadi pada 13 Oktober lalu di Sumbersari.

Saat hujan deras disertai angin, dua warga, tetap beraktivitas memberi makan ternak kambing di belakang rumah.

Mereka menganggap kondisi itu masih aman, sebelum akhirnya tewas tertimpa rumpun bambu yang roboh.

Kejadian tersebut, menurut Januariya, merupakan bentuk normalcy bias yang sering terjadi.

"Tanda bahaya sudah tampak, tetapi direspons seolah tidak ada ancaman," kata dia.

Perilaku serupa juga terlihat pada warga yang tetap berkendara di tengah hujan lebat dan angin kencang, meski potensi pohon tumbang dan jarak pandang terbatas jelas membahayakan.

“Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir, longsor, maupun pinggir sungai sering tetap beraktivitas seperti biasa. Ini bukan keberanian, tapi bias persepsi terhadap risiko,” terang dosen yang juga ketua ikatan alumni Psikologi Unmuh itu.

Ia menegaskan normalcy bias bisa dikurangi melalui pendekatan berbasis komunitas.

Warga perlu dilibatkan langsung dalam mitigasi, mulai dari pemetaan risiko, forum warga, latihan evakuasi hingga pembentukan kelompok siaga di tingkat desa atau RW.

Dukungan akademisi, praktisi, dan pemerintah diperlukan untuk memperkuat edukasi berbasis riset, kebijakan yang jelas, serta sistem peringatan dini yang mudah dipahami.

“Ketika masyarakat terlibat sejak awal, persepsi ancaman menjadi lebih realistis. Sikap waspada lahir dari kesadaran, bukan sekadar imbauan,” pungkasnya. (yul/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Unmuh Jember #Bencana hidrometeorologi